My Journey, My Story, and My Dream

May 23, 2012

Pantang Menyerah

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 6:10 pm

Masih berkaitan dengan cerita sebelumnya yang ini.

1 bulan kemudian, Andre (entah ini namanya apa bukan), telepon saya lagi. Entah karena dia lupa dulu pernah saya tolak, atau karena dia memang masih punya kegigihan untuk membuat saya berniat mendepositokan uang saya yg 1 miliar (aminnnnn).

“Halo, dengan Bu Yeny?”

“Iya, saya sendiri.”

“Saya Andre dari S*** C***” tengtong ingatan langsung melayang ke kejadian serupa.

“Bu, bunga lagi bagus nih disini, 8%.”

“Oh yah? Penempatan berapa?” mencoba melayani sambil berharap dia jangan sampe nyebut 1 miliar lagi.

“1 miliar” hahaha, bener-bener sakit perut deh meladeni marketing yang 1 ini.

“Pak Andre, beneran deh saya gak punya dana sebanyak itu, memang dapat info tentang saya dari mana sih?”

“Yah ibu, kok jadi bercanda? serius nih Bu.” Ya ampun, terulang lagi, gw serius dia bilang bercanda lagi.

“Serius, beneran deh, lagi pula memang bunganya gak bisa dinaikin lagi yah?”

“Yah itu udah bagus bangat Bu, bank lain kasihnya di bawah itu”

“Hmm, gak deh, soalnya kemarin saya sempat ditawarin 10%” tiba-tiba teringat tawaran seorang teman, bukan bohongan.

“Hah masa sih Bu? LPS kan cuma 8,5%, ibu gak takut?”

“Gak juga sih.”

“Penempatan berapa Bu? pasti di atas 1 miliar deh?” gilaaa, masih aja percaya gw ini milliuner.

“Gak tuh, 50 juta juga dapat.”

“Yah bu, kalau gitu kita gak berani main Bu, resikonya gede bangat.”

“Oh gakpapa kok.”

“Yah udah deh Bu, tapi kalo ibu minat, ini nomor telepon Andre yah Bu.” tetep usaha sampai titik terakhir, plok plok.

Wah, pas si Andre tutup telepon, saya lega luar biasa, kasihan euy dapat info yang salah. Tapi yang saya bilang deposito 50 juta dapat 10% memang benar ada, gak bohong, penasaran? mau coba?

May 1, 2012

Dapat info dari mana yah?

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 1:09 pm

2 bulan lalu, handphone saya berdering ..

“Halo, dengan Bu Yeny?”

“Iya, saya sendiri.”

“Saya Andre (nama samaran) dari S*** C*** (nama bank swasta asing)” narik nafas, siap-siap ditawarin kartu kredit atau KTA.

“Bu, di sini bunga deposito lagi bagus nih Bu, Ibu pasti minat, 8%!” sambil mikir, memangnya sekarang bunga bank berapa yah, 8% aja kok bangga bangat.

“Hayo Bu, pindahin dana Ibu kesini” mulai ngeluarin jurus merayu.

“Memangnya untuk penempataan dana berapa?” mencoba meladeni.

“1 milliar Bu!” *saya kejengkang.

“Eh, kamu salah orang deh, saya gak punya dana segitu” mencoba mengklarifikasi sambil cekikikan nahan ketawa.

“Ah Ibu, jangan bercanda dong Bu, serius nih.” Lah, malah gak percaya saya ngomong jujur.

“Beneran, saya gak punya dana sebanyak itu.”

“Yah Ibu, kalau gitu yg 7,75% deh Bu” nadanya merajuk tapi masih mencoba merayu.

“Oh yah? untuk penempatan berapa memang?” saya pikir 10 juta gapapalah.

“500 juta Bu” #hahaha, saya kejengkang lagi deh.

“Ya ampun, kamu beneran salah orang deh, mendingan kamu cari info yg bener biar gak salah orang” saya mencoba menasehati.

“Yah ibu, kok masih bercanda?” Lah yg bercanda siapa, saya serius. Karena kasihan pulsanya habis kalau lama-lama ngomong sama saya sedangkan hasilnya pasti gak ada, akhirnya saya bilang gini deh:

“Yah saya belum minat, dananya lebih baik ditempatin ke yg lain dulu deh, returnnya lebih cepat”bluffingbangat deh, padahal dananya juga gak tahu dana apaan.

“Oh gitu yah Bu, ya deh, tapi kalo ibu minat, ibu langsung contact Andre yah. Ini no HP Andre langsung” yah dibohongin malah terima, dijawab jujur gw dibilang bercanda.

Beneran deh, kalau gw punya duit 1 miliar, gw langsung beli ruko buat usaha impian gw, plus gw gak akan kerja lagi, berangkat pagi pulang malam demi bikin kaya shareholder.

April 16, 2012

Tanggal hari ini, 10 tahun yang lalu

Filed under: Keluarga,Perempuan — ayacerita @ 10:23 pm

Tanggal 16 April 2002, 10 tahun yang lalu (anjrit berasa tua deh), hmm, saya lagi mikir, kira-kira saya kasih kado apa yah buat yg ultah 2 hari lagi. Tiap hari sibuk aja kira-kira mau beli kado apa, kira-kira kadonya bakalan dibungkus pake kertas kado warna apa, motif apa, pake pita apa gak, terus kapan ngasihnya, kira-kira yg ultah hari itu bakalan ada kuliah gak seharian, kalo dia kuliah seharian, gimana dong ngasih kadonya, huahahaha .. banyak bangat mikirnya yah?

Sampai tanggal 16 April itu, sejujurnya belum tahu mau kasih kado apa. Dia bukan tipikal cowok gadgetan, dandanan, apalagi cowo metroseksual, jadi udah pasti pusing mau kasih kado apa. Ada yg kasih saran kasih kaos, tapi ada yg bilang kalo kasih kaos biasanya putus, lah jadian aja belum gimana putusnya coba. Jam tangan? masih anak kuliah belum punya duit buat beliin jam tangan bagus lagipula dia juga gak suka pake jam tangan. Biasa lihat jam pake HP, kebiasaan sampe sekarang yg gak berubah.

“Kalau udah ada jam di HP, kenapa harus pakai jam tangan?” bahasa pamungkas kalau disuruh pakai jam tangan. Padahal kalau HP lobat, juga gak tahu sekarang jam berapa.

Haha, begitu yah rasanya kalau jadi orang yg sedang berbunga-bunga menghadapi gebetan yg akan ulang tahun. Iyah, dia masih gebetan, tapi debarannya rasanya ngalahin orang yg udah serius pacaran kasih kado ke pacarnya.

Terus akhirnya kasih kado apa?

Hmmm, biar dijawab deh sama si gebetan atau sama teman-teman yg masih inget dulu kado pertama saya apa dan bagaimana prosesnya.

Happy Birthday my hubby, 2 hari lagi lho. Bukan berarti tambah tua, tetapi tambah dewasa dan tambah sayang keluarga.

Doa istri yg teraniaya, eh salah, terkasih maksudnya, semoga suamiku segera dapat kerja di Jakarta atau gak yg 2-2, biar gak kangen terus-terusan.

Muachhh, love u more and more.

April 3, 2012

Realitas yang harus dijalani

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 6:22 pm

Judulnya keliatan berat bangat, padahal cuma pusing aja mau bikin judul apa :)

“Apa sih yg tidak bisa terjadi di kantor ini?” itu pernyataan atau pertanyaan dari seorang rekan kantor tadi pagi. Yup, kantor saya sekarang benar-benar lagi di masa kritis, dan entah bagaimana saya harus ‘rela’ jadi korban alias kambing hitamnya.

Sebenarnya saya ogah terlibat dalam politik kantor, saya hanya ingin bekerja dan memberikan “my proffesional skills” yg saya miliki untuk perusahaan tempat saya bekerja. Tapi entah bagaimana mulanya, saya ikut terbawa dalam pusaran kericuhan ini. Saat saya mengetahui bahwa saya dijadikan kambing hitam atas suatu kejadian maha penting di perusahaan ini, saya merasa sedih sekali. Mengapa orang-orang penting di atas itu begitu mudahnya menjadikan saya sebagai kambing hitam? Dan menurut saya hal ini benar-benar tidak cantik, ketahuan bangat siapa yg mengerti siapa yg ngasal saja melemparkan masalah.

Saya berusaha menerima semua ini sebagai buah karma buruk saya dan berbesar hati melapangkan dada untuknya. Tapi saat saya menemui orang ybs sekedar untuk ngobrol, untuk curhat, untuk mendengarkan apa yg sebenarnya terjadi, malah mendapatkan hal yg jauh dari harapan. Bukannya terbuka pada suatu masalah, malah berusaha tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua dan menawarkan bonus pada saya. Saya kecewa apalagi setelah pertemuan saya itu, orang ybs tetap menggadang-gadang nama saya sebagai penyebab keretakan yg terjadi. Kelapangan dada ini pun tergadaikan, berganti pada rasa kecewa.

Kecewa karena dikhianati.

Kecewa karena dijadikan kambing hitam.

Kecewa pada orang-orang yg tiba-tiba membenci saya padahal tidak tahu apa yg sebenarnya sedang terjadi.

Kecewa pada aroma kebencian dan kekecewaan, penuh rasa curiga, yg melanda sebagian orang di kantor ini.

Tetapi, (ah selalu ada kata tetapi buat orang Indonesia), saya juga turut merasakan manfaat dari situasi ini.

Ini perusahaan pertama di mana saya benar-benar mengeluarkan semua profesional skill yg saya miliki.

Akibatnya saya mendapatkan apresiasi dari Direktur-direktur perusahaan ini dan saya sangat berterima kasih untuk itu.

Saya lebih belajar lagi mengelola kekecewaan saya, tidak menunjukan atau menyalurkannya di waktu dan tempat yg tidak semestinya. Belajar untuk bersabar, mengelola emosi, dan mencoba membereskan keadaan seprofesional mungkin.

Mencoba untuk memberikan masukan, saran, kepada Perusahaan dgn menggunakan profesional judgement yang saya miliki agar Perusahaan ini bisa segera keluar dari krisis.

Dan beginilah sekarang, saya di sini, masih berada di sini, menghadapi berbagai rasa kecewa, pandangan benci, dan pandangan kasihan karena saya jadi korban. Mencoba untuk memahami, semua situasi ini bukanlah alasan saya untuk membenci orang-orang tersebut apalagi mengharapkan mereka celaka. Mencoba untuk berjuang bersama teman-teman yang peduli pada Perusahaan ini agar secepatnya keluar dari pusaran masalah yg mendera.

#rasanyajadirindujadikaryawanbiasasaja

 

 

March 1, 2012

Interview, apakah harus santai?

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 1:51 pm

Syukurlah, sesudah banyak melewati sesi interview aneh-aneh yg sampai disemprot baygon segala, sekarang saya ada di posisi yang harus meng-interview calon kandidat. Dan ternyata lebih seru menginterview yah daripada diinterview.

Dulu, jaman masih kuliah gitu (hmm, berapa tahun lalukah itu?), pas di semester-semester akhir, ada beberapa sesi seminar yang isinya antara lain mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja, salah satunya adalah cara berpakaian dan sikap saat diinterview. Ada satu sesi yang diisi oleh salah satu pembicara yang berasal dari sekolah kepribadian terkenal di Jakarta.

Yang masih saya ingat saat itu adalah kalau perempuan sebaiknya pakai baju yang rapi, kalau bisa pakai blazer, kalau pakai rok jangan pendek-pendek, warna-warna netral seperti putih, coklat, biru, hitam; pakai sepatu tertutup biar lebih kelihatan resmi, tapi jangan pakai hak tinggi-tinggi, nanti disangka interview calon peragawati, berdandan tipis-tipis, gak usah menor kaya penyanyi 17an. Kalau pria sebaiknya pakai kemeja tangan panjang, jangan tangan pendek karena kalau kemeja tangan pendek kesannya non formal, kalau bisa pakai dasi tapi disesuaikan dengan perusahaan yang mau dilamar, kalau industri kreatif kan jarang bangat pakai dasi tuh karyawannya. Pakai kemeja warna netral, jangan yang mencolok mata seperti warna kuning atau merah. Celana warna gelap, hitam misalnya.

Terus masalah tas, kalau cewek jangan bawa tas kekecilan kaya mau kondangan atau tas kegedean kaya mau kondangan terus ngumpetin pisang. Kalau cowok, sebaiknya jangan bawa tas ransel karena menimbulkan image masih mahasiswa, yg gak siap masuk dunia kerja, dan ini langsung dibantah sama Bronsen yang sampai sekarang kalau kerja pasti bawanya ransel. Terus kalo diinterview tasnya taro dimana? Dibilangin sih sebaiknya ditaruh di lantai, atau taruh di samping kita kalau memang kursinya masih muat, jangan dipangku karena menandakan siap-siap pergi hehe.

Nah terus diajari cara jalan, cara berdiri, cara berjabat tangan dengan si peng-interview, yang saya ingat lagi, kalau si peng-interview baru masuk ruangan, kita harus segera berdiri dan berjabat tangan. Saya sih setuju saja, soalnya ini juga adat ketimuran yg pasti udah kita tahu dari dulu, gak mungkin dong, elo lagi kawin diajak salaman sama tamu, elonya duduk aja.

Sedikitnya, himbauan ini masih saya pegang sampai saat ini, kecuali masalah blazer di atas. Ok, pas baru lulus, berbondong-bondonglah teman-teman perempuan mahasiswi beli blazer bagus-bagus buat interview doang, saya pun juga, tapi belinya di mangga dua aja hehe. Gak rela gitu liat sepotong blazer harganya Rp 200ribu, kerja belum, modalnya gede bangat yah. Karena di proses interview berikutnya, andalan saya hanya kemeja rapi plus celana warna gelap dan sepatu, udah itu aja, sebodo teuing sama blazer deh hehe. Apalagi di kantor saya sekarang yang industri kreatif, waktu interview pakai kemeja tangan panjang saja saya udah merasa saltum, apalagi waktu itu pake blazer yah?

Nah dari dasar-dasar ini dan adat-adat ketimuran yang saya pakai, saya pernah menolak seorang kandidat hanya dari 1 menit pertemuan pertama saja. Ceritanya gini, ini kandidat di psikotes dulu sama HR, baru setelah hasil psikotes keluar dan saya baca sekilas, saya memutuskan menemui dia. Kandidat menunggu di ruang meeting, pas saya menemuinya, dia sedang duduk bersender sambil menyilangkan kaki, saya masuk ruangan, dia tetap duduk dalam posisi seperti itu, sambil saya menjulurkan tangan untuk berjabat tangan, dia tidak bangun dari duduknya, hanya menyambut tangan saya.

Saat itu langsung ilfil deh, ini saya yang butuh, apa siapa sebenarnya? Jadi waktu itu melanjutkan interview hanya untuk formalitas karena di kepala saya sudah ada keputusan “REJECT”, sebodo teuing deh kalo misalkan dia anak pinter ber IQ tinggi, fast learner, smart, whatever you say, tapi kalau attitudenya begitu, kaga gw terima deh.

Ok deh interview gak perlu tegang, santai saja, tapi santai bukan berarti gak punya attitude dan tidak mengerti tata krama dong. Hargai orang yang meluangkan waktu untuk interview dengan kita dengan bersikap sopan, kan gak sampe diminta membungkukan badan kaya orang Jepang kasih salam gitu.

Yuhuuu, beneran deh, ternyata sesi-sesi interview yang saya lewati saat ini bener-bener menantang. Setiap kali saya harus menginterview kandidat, pasti bertanya-tanya, “yang seperti apa yah sekarang?” hehe.

Selamat mengikuti interview.

 

 

February 7, 2012

Sim Sim Terima Kasih Sim

Filed under: Viriya — ayacerita @ 6:17 pm

Ada yg tahu lagu itu?

Viriya lagi suka nyanyi lagu itu tuh, sampai hapal karena seringnya diputer di DVD.

Yuk nyanyi bersama

Sim sim terima kasih sim

Simpak daun rambutan tan

Tanduk ular mati ti

Tikus main di loteng teng

Tengok ayam bertelor lor

Lori jalannya maju ju

Jual minyak wangi ngi

Ngitung duit seperak rak

Rakus makannya sapi pi

Pitak palanya soleh leh

Lenong main di kampung pung

Pungut anak perawan wan

Wani jago gendang

Wani jago gendang

Dang dang dang dut

Dangdut icik-icik

Dangdut icik-icik

Gak lupa nadanya kan?

Kalau lupa tanya saya yah

December 29, 2011

Yang dulunya begitu

Filed under: Keluarga — ayacerita @ 3:13 pm

Hmm, tulisan ini, tribute to my one and only brother, Denny.

Yeny kecil, tumbuh menjadi, mungkin karena anak pertama, anak mandiri, tegas, bawel, galak. Gak pernah nangis kalau dijahilin temen waktu SD malah sibuk bikin rencana balas dendam, pernah nangis sih sekali tapi itu karena ada anak yg menghina bokap. Yeny kecil juga hemat, alias pelit. Uang jajan Rp 100 tapi masih bisa nabung Rp 50/hari *hemat sekali kan tuh. Jarang banget minta dibeliin mainan atau bakso yg lewat, lebih senang dikasih mentahnya aja *alias duit (dari kecil udah kenal duit bangat nih). Hobi bangat naik game arcade yg gerakannya kasar, jledak jleduk.

Denny kecil tumbuh sebaliknya. Entah karena dia anak bungsu, saya selalu berperan jadi “kakak pelindung adiknya yg suka dijahilin”. Pas Denny masuk SD, ada saja masuk laporan dari temannya, “Cici, tadi Denny nangis.” Dan saya harus mencari anak yg tadi bikin adek gw nangis. Sebaliknya lagi, adik saya ini boros bangat, uang jajan selalu dihabiskan, kalau waktunya mecahin celengan sudah pasti duitnya lebih sedikit dari duit saya. Dan gak suka naik game arcade yg jledak jleduk, malah lebih suka naik game arcade yg gerakannya santai macam naik kereta api yg muternya gak lebih dari diameter 5 meter.

Pas sudah gedean dikit, entah karena anak bungsu dan anak cowok satu-satunya *padahal saya juga anak cewek satu-satunya, permintaannya banyak bangat, mulai dari mainan, sepeda, roller blade, sampai sepeda motor. Kalau minta barang gak dikabulin, langsung jatuh sakit. Sakitnya juga bukan cuma batuk pilek, tapi langsung sakit tipes atau campak *ampun deh.

Bahkan pernah ngajak saya sekongkol, “Ci minta beliin HP ke papah dong, biar aku bisa minta dibeliin motor.”

Jiah HP cuma 1,5 – 2 juta, motor kan bisa lebih dari 10 juta. Eh tapi perhitungan sama duitnya mirip gw juga sih hehe.

Tapi terkadang saya merasa saya juga salah sih karena sering menganggap dia masih kecil. Dari hal kecil misalnya naik bis mau kemana gitu, saya tanpa sadar selalu me-lead dia, saya biarkan dia masuk bis duluan, saya belakangan. Kalau ada urusan birokrasi, seperti ngurus adminitrasi waktu bokap masuk RS, saya yg selalu maju, saya gak pernah minta dia untuk maju.

Saya pribadi khawatir sama sikap manjanya ini, tapi mau bagaimana lagi yah? Soalnya dari orang tua juga tetap biasa saja. Perubahan sih ada, misalnya saya udah gede gak berani naik motor, sedangkan dia bisa duluan bawa motor dan ngebut pula. Sampai waktunya dia UMPTN, pilihan pertamanya UI Psikologi, tapi dia gak masuk, malah diterima di FE Undip, yah Universitas Diponegoro di Semarang.

Kalang kabut? saya sih biasa saja, mamah saya yg rasanya gak rela melepas anak bontotnya ke luar kota, sendirian pula. Saya sih waktu itu cuma bilang, “Yah mungkin dia bisa jadi mandiri kalau berada di kota lain.”

Jadi waktunya dia berangkat ke Semarang, ditemani dengan mamah tercinta, daftar ulang, cari kost, belanja kebutuhan kost. Sampai rumah, mamah saya bilang gak tega ninggalin Denny, mana kostnya seadanya, kasur tipis dan seprei kotor.

Dan jreng jreng … hidup sendiri dan dipaksa mandiri bikin Denny suatu hari kira-kira bilang gini, “Gak enak ah minta duit mulu sama papah.”

Glek.

Bagaikan disambar geledek *lebay, karena dulu bakalan susah keluar kata-kata itu dari mulutnya. Ternyata hidup di kost bikin dia menyadari pentingnya uang dan bagaimana harus ngatur uang seefektif dan seefisien mungkin. Jadi sudah gak sembarangan lagi sama yg namanya “minta uang dong Pah buat beli ini-itu bla bla bla.”

Sungguh rasanya pingin tepuk tangan waktu itu, tapi itu gak ada apa-apanya dibanding kabar yg baru saya dengar 2 minggu lalu. Setelah sekian lama bekerja di sebuah bank swasta nasional, Denny ingin berwirausaha membuka sebuah warung makan khas Semarang bekerjasama dengan temannya. Wah, beneran deh saya bangga bangat waktu dengarnya.

Adik kecil gw, yg dulu begini begitu, ternyata lebih punya tekad berwirausaha dibanding gw *karena kebanyakan mikir dan takut resiko. Hebat, bangat, terharu dengernya.

Semoga sukses yah Den dengan warung makannya.

Buat teman-teman, hayo  datang yah, grand opening tgl 7 Januari 2012, letaknya di komplek Perumnas 3 Bekasi. Belum tahu nama warung makannya apaan, nanti di update deh. Bisa makan makanan khas Semarang dari mulai nasi kucing sampai soto Semarang, hmm.

*Love you Denny.

November 29, 2011

Disemprot Baygon

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 1:05 pm

Sekarang, saya kerja di perusahaan ke-5 sejak lulus kuliah. Bagi sebagian orang, mungkin saya termasuk jenis “kutu luncat”, tapi ada juga yg bilang, “Segitu mah belum seberapa.” Bagi saya sendiri, yah, namanya mencari karir dan rezeki, tentu mencari yg terbaik. Untuk menuju ke perusahaan ke-5 ini juga tidak mudah. Beberapa interview saya lakoni, dari mulai perusahaan di daerah Gatsu bahkan sampai Pondok Pinang, yg paling dekat dari rumah, adalah sebuah perusahaan oli (kalo gak salah) yg berada di bilangan Sawah Besar.

Perusahaan ini terletak di kawasan ruko-ruko, lupakan gedung tinggi daerah Sudirman Thamrin, yg ini tempatnya biasa saja. Janji jam 10 untuk interview dan test, saya datang jam 9.30. Dengan harapan biasanya kalau interview pasti disuruh mengisi CV template perusahaan bersangkutan. Nyatanya, saya dianggurin gitu aja di ruang tunggu depan resepsionis. Jam 10 lewat, HR Manager datang, dan langsung ngomong ke resepsionis, terus bilang:

“Datang dari jam berapa?”

“Dari jam setengah 10, Bu.”

“Sudah ngisi form CV?”

“Oh, harus ngisi yah Bu?”

Ilfeel #1.

Jiaaaahh, gw juga bilang apa kan. Akhirnya 45 menit menunggu sia-sia, baru dikasih form CV, saya isi satu persatu, sampai kemudian di bagian paling bawah ada pernyataan:

“Kalau ternyata yg saya isi dataya ini tidak benar, saya boleh dibawa ke Kepolisian dan dituntut di pengadilan.” Dan saya harus tanda tangan.

Ilfeel #2. saya ogah tanda tangan.

Jam 11 baru dipanggil ke ruangan HR untuk tes kecil-kecilan katanya. Pas lihat soal, saya langsung tanya, “Saya apply untuk posisi apa memang yah Bu?” saya mau konfirmasi dulu ceritanya.

Ibu HR Manager, “Asiten Acconting & Finance Manager” jawabnya tegas.

Oh oke, tapi kenapa gw berasa disuruh jadi staf accounting fresh graduate yg kerjanya input doang yah, karena soalnya itu disuruh bikin jurnal transaksi, penyesuaian, sampai laporan keuangan, yg anehnya gw berasa nih soal terakhir kali gw temuin saat Kelas 3 SMA soal akuntansi. Soalnya ada istilah AJP (ayat jurnal penyesuaian), kalao soal anak kuliah, pasti bilangnya “adjustment entries”, plus disuruh bikin laporan perubahan modal, alamak ini mah benar soal anak SMA deh kayaknya. Itu berapa tahun lalu yah (tuing tuing langsung berasa tua deh).

Ilfeel #3. Setengah jam kemudian saya selesaikan, emang gak selesai sih, tapi sayanya sudah malas ngerjain sampai selesai.

Saya disuruh nunggu lagi di sofa depan resepsionis. Katanya usernya mau periksa jawaban saya dulu.

Saya pun berasa haus, iyalah dari rumah jam 8an sampai siang gini gak dikasih minum sama sekali. Saya pun minta air putih sama si mbak resepsionis. Dan si mbak pun langsung bilang, “Gak ada.” *kejengkang.

Ilfeel #4.

“Eh, tapi sebentar Mbak, saya lihat di depan dulu.” Si resepsionis berubah pikiran, mungkin gara-gara lihat saya kejengkang.

Dia keluar ruangan alias kantor, karena cuman ruko, jadi di depan ternyata ada kios abang jual rokok n aqua. Saya dibeliin 1 buah aqua gelas yg mana saya rasa kurang. Akhirnya, saya keluar juga langsung beli aqua botol. Glek glek, ini baru puas namanya, sengaja minumnya di depan si mbak resepsionis. *emang jahat.

Gak lama, ada ibu-ibu keluar dari belakang, langsung ke arah tumpukan kardus di ruangan ini. Mungkin OB, saya pikir. Eh, gak lama kemudian dia masuk lagi, terus keluar lagi sambil bawa Baygon, dan langsung nyemprot tuh Baygon ke arah kardus, *kejengkang bolak-balik.

Ilfeel #5

Buset dah, gw kan duduk gak sampe 2 meter dari tuh kardus, masa dia nyemprot Baygon seenak udelnya dewek padahal itu di ruang tamu lho. Saya pun keluar, hirup udara segar. Si resepsionis tetap di dalam, sambil nutup hidung. “Duh mbak, nanti bisa mati muda lama-lama di sini.” saya membatin.

Gak lama saya masuk, sudah hampir jam 12. Saya tanya saja kalau sekarang gak bisa ketemu User, mendingan saya balik aja deh. Udah siang, disemprot baygon pula (berasa diusir kan tuh?). Si resepsionis bingung, saya pun langsung balik badan. Dia cuma bilang “nanti ditelepon yah Mbak.” Dan satu kata lagi …

“yang uang Aqua-nya tadi, gak usah diganti yah Mbak, gapapa.” *kejengkang lagi.

Ilfeel #6. Siapa juga yg mau ganti duitnya, itu kan kewajiban tuan rumah sediain minum, huhuhu.

Petikan moral : Kalau mau interview calon karyawan, ingat, jangan sampai tuh karyawan disemprot Baygon sama OB, atau Anda akan kehilangan calon karyawan potensial. (berasa gitu potensial hahaha).

 

November 2, 2011

Lelaki dan celana dalam

Filed under: Keluarga,Simple n ringan aja — ayacerita @ 5:14 pm

Dulu jaman kuis Family 100 lagi heboh-hebohnya, ada 1 pertanyaan yg saya ingat bangat dan dijawab dengan tepat oleh Mamah saya, jadinya semua jawaban disapu bersih oleh Mamah. Pertanyaannya adalah “Apa barang kebutuhan laki-laki yang tidak pernah dibeli sendiri?”

Jawabannya :

  1. Celana dalam
  2. Kaos dalam
  3. Sapu tangan
  4. Kaus kaki
  5. Handuk

Sekian lama mengurus suami dan adik saya yg laki-laki, Denny, Mamah sampai hafal barang apa yang harus dibeli dan kapan harus membelinya. Biasanya sih belanjanya menjelang Imlek, selebihnya kalau kondisi sudah tidak layak, langsung beli lagi. Belanjanya juga di mangga dua yg bisa beli lusinan dgn harga miring dikit.

Nah, sampai saya punya pacar dan berstatus sebagai istri ternyata saya juga harus mengalami hal ini.

Pertama, celana dalam, Bronsen tidak pernah beli celana dalam sendiri, saya yg gerah melihat kondisinya yg sudah tidak layak pakai tapi dia tetap keukeuh pakai, dgn alasan “gak ada yg lihat ini”. Jadi, seumur-umur sayalah yg beliin dia celana dalamnya.

Kaos dalam, gak ada, soalnya Bronsen gak pake.

Sapu tangan, cuma sekali saya kasih pas Sangjit, itu pun dia lupa kalau dia punya sapu tangan. Setelah 3 tahun perkawinan kami, dia baru ngeh ada kotak saputangan yg masih rapi dan sapu tangannya juga masih rapi jali. Dipake hanya 1 helai.

Kaus kaki, juga gak pernah beli sendiri. Saya senantiasa harus terus beliin, apalagi kaus kaki itu barang yg cepet bolongnya.

Handuk. Bronsen tipe yg setia dgn 1 handuk, sebelum handuk itu jadi lap, padahal udah dekil, bau, sobek-sobek, dan saya belum mengkategorikannya sebagai lap, handuk itu akan tetap dipakai. Selama ini sih baru beli 2 buah handuk pas merit aja, plus handuk-handuk sumbangan jaman single dulu. Jadi masih cukuplah untuk tidak dipakai lagi.

Saya tambahin satu lagi, celana kolor, bukan celana dalam, tapi celana pendek yg biasa dipakai pas di rumah aja, karena pinggangnya pakai tali kolor, maka disebut sajalah celana kolor yah. Nah ini dia, Bronsen memecahkan rekor tidak pernah beli celana kolor, padahal tiap hari pasti pake. Saya dan Mamah mertua yg suka beliin. Apalagi kalau sudah sobek di tengah selangkangan, wow!

Hal positif yg bisa saya ambil adalah my lovely hubby adalah orang yg irit dan hemat. Jadi gak perlu beli baju baru, kalau yg lama masih bisa dipakai. Gak usah beli kolor baru, sebelum sobek-sobek. Gak perlu beli kaus kaki baru, kalau sobeknya masih bisa disembunyiin di balik sepatu/celana panjang. Hehehe.

October 28, 2011

Sabar – Marah

Filed under: Cuma mikir,Curhat emak-emak — ayacerita @ 12:48 pm

Baru kemarin nulis soal sabar, eh langsung diuji lagi, karena 2 malam berturut-turut saya harus marah.

Ceritanya saya yg sekarang masih nebeng di rumah orangtua di Bekasi harus menghadapi kenyataan bahwa di sebelah rumah ortu sekarang sedang ada proyek pembuatan “entah apa” yg dilakukan oleh SB. Saya bilang “entah apa” karena tidak pernah ada komunikasi dan informasi resmi dari pihak pengembang mau dijadiin apa sih tuh eks rumah dan tanah tetangga kami. Yg ada, tiba-tiba banyak tukang datang terus gali-gali lobang, banyak alat berat, dan beton-beton gede.

Jangan ditanya seberapa berisiknya karena berisik sekali.

Jangan ditanya seberapa banyak debunya karena ya ampun debunya itu sungguh-sungguh bikin polusi udara.

Yang bikin saya marah adalah pekerjaan yg berisik itu pada siang hari menyebabkan Viriya gak bisa tidur siang, nah kalau ngantuk tapi gak bisa tidur, ujung-ujungnya Viriya badmood bangat. Ternyata pada malam harinya, ya ampun, jam 1 tengah malam pekerjaan konstruksi masih dilanjutkan dan dilakukan tepat di sebelah dinding kamar saya.

Terang saja saya senewen, Viriya gak bisa tidur, saya yg bekerja sepanjang hari dan menginginkan tidur malam yg damai mesti terganggu suara berisik ini juga gak bisa tidur. Akhirnya dengan berdaster ria, saya dan Mamah saya mesti keluar rumah dan menegur para tukang yg sedang bekerja itu. Tadi malam kejadian serupa terulang lagi, saya benar-benar marah sampai suara saya seperti orang menangis. Beneran deh saya heran, begini yah aksi korporasi besar melakukan usahanya, benar-benar merugikan penduduk di sekitarnya. Konstruksi yg tanpa hati dan tanpa tenggang rasa dan pengertian ke penduduk sekitar. Seenaknya saja melakukan konstruksi pada tengah malam tanpa ijin dan permisi kepada kami.

Bukan hanya Viriya anak kecil di sekitaran tempat konstruksi, banyak anak kecil lain yg juga terganggu suara dan debu yg dihasilkan. Bagaimana masa depan kesehatan mereka jika tiap hari harus terpapar debu dan bisingnya suara, belum lagi kualitas tidur yg tidak maksimal. Siapa yg mau bertanggung jawab?

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.