My Journey, My Story, and My Dream

May 14, 2009

Hujan Deras atau Hujan Rintik-rintik

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 4:20 pm

Pagi hari ini Jakarta hujan, tidak deras, tetapi cukup membasahi jalan dan seperti biasa cukup membuat Jakarta sedikit lebih macet. Berangkat kerja jadi repot, harus lebih pagi karena jalanan pasti macet, harus pakai jas hujan karena saya dan suami ‘hanya’ naik motor, harus sedia baju ganti karena jika hujan tambah deras, air hujan akan menembus jas hujan dan bikin baju basah, harus pakai sandal dulu, nanti di kantor baru ganti sepatu dan pakai kaus kaki bersih. Repot deh jadinya.

Dari jaman sekolah dulu, saya tidak suka hujan yang turun di pagi hari, bagi saya hujan pagi-pagi bikin kegiatan jadi repot. Dari SMP sampai SMA saya bersekolah di daerah Agus Salim, Bekasi. Dari rumah saya, biasanya saya jalan kaki dan naik getek (eretan) menyeberangi sungai Bekasi. Perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sebenarnya bisa saja naik angkot, tetapi harus 2 kali naik dan ongkos 2 kali lipat. Jaman sekolah dulu tidak seperti sekarang dimana angkot cari penumpang karena jumlah angkot yg terlalu banyak, dulu pagi-pagi adalah masa panen angkot, penuh bangat, banyak penumpang yang tidak terangkut. Kalau mau dapat angkot berarti harus berangkat dari rumah jam 5.45, bandingkan kalau mau naik getek saya bisa berangkat jam 6.20.

Nah, kalau hujan pagi-pagi atau bahkan dari malam hari, biasanya sungai Bekasi langsung tinggi dan getek pun tidak bisa menyeberang karena takut terbawa arus sungai yang deras. Alhasil, saya dan teman-teman lain yg biasa menggunakan jasa getek akhirnya harus pindah naik angkot. Harus bangun lebih pagi, dan antri stop angkot. Harus juga pakai jaket karena kalau baju putih kena hujan, wah tembus melayang pandang deh; harus pakai sandal dulu, biar sepatu dan kaus kaki gak basah. Dulu pernah sekali nekat, malas pakai sandal dulu, eh di jalan ada genangan air yg harus dilewati, yah terpaksa deh sepatunya berendam. Sampai sekolah jadi nyeker dan harus kasih penjelasan ke guru kalau ditanya kenapa nyeker.

Pernah nekat ikut Papah naik motor, (papah saya biasa berangkat kerja jam 6.45 tapi demi saya waktu itu rela berangkat jam 6.10), jaman dulu belum ada jas hujan yang potongan baju celana, adanya jas hujan jubah. Sering lihat orang yang dibonceng motor kalau hujan kepalanya masuk dalam jubah, saya ikut-ikutan nyoba, eh kok gelagapan yah, rok juga tetap basah. Yah sama saja bohong deh.

Jaman kuliah musing penghujan di Depok berarti siap-siap mati lampu. Depok itu seperti Bogor, hujan terus, tapi hujannya lebih parah, petir dan geledek terus-terusan. Kadang hujannya tidak turun, tapi petir dan geledeknya terus-terusan. Tapi lebih parah lagi kalau hujannya gak jadi tapi mati lampunya jadi. Sudah deh penduduk Depok terutama anak kost-kostan alias mahasiswa UI yang lagi sibuk tugas panik gak bisa ngerjain tugasnya, yang gak lagi sibuk tugas juga ngedumel, mau di dalam kamar panas, di luar kamar, banyak nyamuk, mau ke tempat makan, penuh; semua orang memang berpikiran sama untuk nongkrong di warung makan.

Hujan besar di Jakarta, apalagi siang hari, berarti siap-siap gak bisa pulang cepat, percuma pulang cepat, sampai rumah pasti malam. Kadang sebal sama Jakarta, hujan sebentar saja, jalanan banjir dan macet. Dulu waktu masih di Wisma Antara, pernah pulang sampe jam 22.30 gara-gara depan kantor banjir sepaha orang dewasa. Banyak yang terjebak di kantor,gak bisa pulang, terus lapar juga, gak bisa keluar cari makan.

Kemarin waktu kantor di Kuningan, baru bisa pulang jam 9 malam gara-gara hujan juga. Saya pikir karena sekarang saya naik busway, harusnya tidak begitu terpengaruh dengan hujan dan macet. Eh saya salah, busway juga kena macet, alias jalanan busway dibajak sama mobil-mobil pribadi yang gak sabar sama kemacetan dan akhirnya busway tidak datang-datang. Jam 9 baru deh jalanan lancar.

Hujan juga bagi saya yang suka berjalan kaki adalah juga kesempatan kecipratan genangan air. Sering kesal, kenapa yah mobil-mobil itu gak bisa pelan sedikit aja biar orang lain tidak kecipratan. Kadang berpikir apakah mereka seumur hidup naik mobil, gak pernah merasakan jadi pejalan kaki? Apakah mereka gak pernah melihat ada genangan air, terus kalau mobil mereka lewat kencang-kencang, itu berarti air bisa nyiprat ke trotoar dan bisa kena orang yang sialnya ada di trotoar itu? Kadang kalau lagi sebal, saya berharap mobil orang itu bocor, hehe, gak mungkin bangat yah?

Yah, hujan, memang bikin repot kadang-kadang, tapi kalau gak hujan, malah ribut kepanasan. Saya sih cuma berharap hujan jangan turun pas pagi hari orang berangkat kerja dan anak berangkat sekolah, repot, tapi siapa saya bisa mengatur hujan yah?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: