My Journey, My Story, and My Dream

June 8, 2009

Gak mau, Bang! Belum berhenti!

Filed under: Our Transportation — ayacerita @ 10:20 pm

Pernah mencoba balapan di tengah kota Jakarta? Gak pernah? Apa karena takut ditangkap polisi karena melanggar batas kecepatan maksimal? Atau karena emang gak bisa ngebut karena jalanan Jakarta sudah macet semua? Atau karena takut nabrak bajaj yang tiba-tiba nyelonong depan mobil atau motor yang tiba-tiba mau menyalip dari kiri?

Rasa takut itu sirna manakala ditanyakan kepada supir metromini/kopaja/bis karena jika ada 2 bis dengan trayek yg sama dan berjarak berdekatan satu sama lain, entah bawaan lahir dari mana, mereka senang sekali kebut-kebutan. Sepertinya adrenalin para abang supir ini meningkat jika ada temannya yang ngajak balapan atau dia sendiri yang ngajakin balapan.

Korbannya tidak lain adalah penumpang; saat penumpang naik, disuruh buru-buru naik, saat penumpang mau turun, disuruh buru-buru turun. Sama sekali tidak memperhatikan keselamatan penumpang. Minggu lalu saya naik metromini 640 jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang. Saat memberhentikan 1 metromini, datang metromini yg sama di belakangnya, dan firasat pun terbukti, ajang F1 kembali berkobar di jalan Thamrin Jakarta Pusat ini. Saya langsung pegangan tiang di depan saya (kebetulan duduk dekat pintu depan), mungkin karena kencangnya saya pegangan, Bapak di belakang saya sampai bilang lagi, “Yang kencang Dek pegangannya.” (Eh, masih dipanggil adek, ge-er mode on). Saya langsung mengangguk.

Di satu halte, banyak penumpang yang mau naik, dan langsung si kenek yang ternyata juga hobi F1 jalanan ini, teriak, “Ayo-ayo Mbak, cepetan-cepetan”, padahal udah naikin penumpang di halte kenapa pula harus buru-buru. Saya harus turun di halte depan, metromini saingan abang supir ini menyusul dari kanan, wusss, berhenti di halte depan, dan menang mengangkut penumpang di halte itu. Eng ing eng, tanda tak baik, berarti si abang supir tidak niat berhenti di halte depan. Saya berdiri, sempoyongan, karena si metromini badannya meliuk-liuk mengikuti gerakan nyetir si abang supir. Saya pun seperti biasa, ketok-ketok atap metromini, sambil bilang, “Halte, Bang!”

Firasat terbukti, si abang supir ogah nurunin saya karena gak ada penumpang yang naik sekaligus takut kalah balapan ma saingannya. Akhirnya biasa metromini nurunin penumpang pakai gigi 1 (alias gak berhenti total), ini pakai gigi 2 sudah maksa nurunin saya, sambil teriak, “Cepetan, Mbak!” Saya diam, gak niat turun, saya gak mau mati keseret metromini, si abang kondektur juga maksa saya cepetan turun, akhirnya saya teriak, “Gak mau, Bang! Belum berhenti!” Keras kepala saya keluar, entah dari mana keyakinan datang kalau si abang bakal mengalah sama saya, penumpang yang lain pun takjub mendengar saya teriak menolak permintaan si abang supir n kondektur ini. Tapi berhenti juga sih akhirnya, walaupun gak sempurna, standar gigi 1, dan sudah melewati halte yang saya maksud sejauh 10 meter.

Aduh si abang, ikutan F1 aja deh, Bang atau gak, narik metromininya di Sentul aja deh!

1 Comment »

  1. lucu nie ceritanya! kebayang yen.. ga heran bokap gw selalu siap sedia batre bekas buat nimpuk supir yang bawanya ngaco. Its so indonesian!

    Comment by vita — September 18, 2009 @ 2:40 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: