My Journey, My Story, and My Dream

March 13, 2010

Merasakan Kontraksi Sebelum Waktunya

Filed under: Curhat emak-emak,Pregnancy — ayacerita @ 8:46 am

Wuih … sebenarnya agak malas nulis cerita yang ini, tapi karena saya juga malas cerita berulang kali setiap kali ketemu teman dan kerabat, dan juga untuk share para ibu hamil, mudah-mudahan pengalaman ini bisa jadi hikmah juga (ciee …. kaya abis gimana gitu yah?)

Jum’at pagi, tgl 5 Maret, waktu bangun tidur, gak tega sama Bronsen yang masih ngantuk bangat untuk bangunin dia panasin mobil. Saya pikir, kayanya badan saya masih ok nih untuk naik motor. Jadi sengaja nyuruh dia tidur aja lagi 1/2 jam, nanti naik motor aja ke kantor. Soalnya kalau mau bawa mobil ke kantor, berarti kami harus berangkat jam 6 pagi, sedangkan kalau naik motor bisa jam 6.30 lewat.

Bronsen sih waktu itu bawa motornya biasa aja yah, bahkan cenderung lebih pelan dari biasa dan selalu bawa di kiri. Tetapi menurut saya itu pilihan yang salah, karena ternyata bagian kiri jalan sepanjang Hayam Wuruk dan Merdeka Timur itu gak rata, ada lubang lah, tambalan lubang yg gak rata, saluran air, pokoknya sepanjang jalan itu perut saya terguncang-guncang.

Siangnya saya merasakan perut saya kencang lebih dari biasanya, waduh jangan-jangan kontraksi nih, pikir saya. Tapi saya pikir ini kontraksi palsu sampai jam 2 siang saya mulai merasakan mulas. Sakitnya dari pinggul, terus menjalar ke perut bagian bawah, dan menetap rasa mulasnya. Saya masih berpikir ini kontraksi palsu karena katanya kalau kontraksi beneran mau melahirkan, rasa mulasnya hilang, timbul, hilang, timbul, nah kalau yg saya rasakan mulasnya malah menetap.

Sempat istirahat sebentar di mushola, jam 3 telepon Bronsen bahwa saya sudah mulai mulas-mulas tapi gak jelas intervalnya. Minta Bronsen untuk tidak men-silent HP-nya walaupun ada meeting, jadi kalau saya ternyata makin mulas, dia bisa langsung pulang jemput saya.

Jam 4 di Taxi menuju pulang ke rumah, mulasnya nambah. Sampai di rumah jam 5, minta Bronsen telepon dr.Shinta untuk tanya apakah saya perlu ke RS tidak. Ternyata dokter meminta saya untuk segera datang ke RS dan melakukan CTG. Jam 6.30 Bronsen sampai di rumah tapi saya ingin mandi dan makan malam dulu sebelum ke RS dan mengingat jalanan Jumat malam yg pasti macet, saya pikir lebih baik berangkatnya setelah 3 in 1 saja deh, sampenya juga sama pasti di RS.

Jam 8 berangkat ke RS. Sampai di RS langsung CTG dan ternyata ….. saya sudah kontraksi 10 menit sekali tetapi tidak ada bukaan. Alamak, pantas rasanya mulas bangat. Akhirnya karena kandungan masih 37 minggu, belum waktunya baby keluar. Saya diinfus untuk menghentikan kontraksi. Nginep deh di RS malam itu.

Besoknya dokter melakukan tindakan ke saya, mulai dari periksa dalam, membersihkan vagina dari keputihan, dan melakukan CTG lagi. Saya heran kenapa saya harus CTG berulang-ulang, sampai harus pakai oksigen segala. Sorenya setelah dokter melakukan operasi pada pasien lain, dokter mengabarkan bahwa kondisi jantung bayi saya yg tidak biasa yakni detak jantungnya di atas normal, kemungkinan karena supply oksigen yang terganggu, herannya semalam waktu pertama kali datang, detak jantung baby normal-normal saja. Dan jika dilakukan pemeriksaan ulang dan hasilnya masih jelek, malam itu juga saya harus di-caesar.

DUARRRRR … kaget sekali saya, rasanya gak percaya bangat. Saya tidak pernah berpikir akan melakukan caesar, saya tidak mau, saya yakin tidak ada yg salah pada diri saya dan bayi saya. Akhirnya dokter melakukan USG dan hasil USG juga tidak dapat menjelaskan mengapa detak jantung baby di atas normal; baby tidak kelilit tali pusat, air ketuban cukup, cairan di otak juga bagus, nadi saya juga normal; jadi tidak jelas mengapa detak jantung baby begitu tinggi.

Akhirnya setelah saya dan Bronsen diskusi, kami memutuskan tidak mau melakukan operasi caesar malam itu juga. Katanya CTG itu sensitivitasnya 70% dan kami ambil resiko yg 30%nya. Inginnya pulang saat itu juga dan minggu depan kembali, tapi dokter tidak mengizinkan karena resiko yg terlalu besar. Akhirnya diambil jalan tengah, kami menunggu kondisi baby sampai besok pagi, dan saya harus pakai oksigen semalaman, jika setelah pakai oksigen pun detak jantung baby belum normal, saya harus terima kenyataaan bahwa baby harus dilahirkan esok hari.

Jam 10 malam, hasil CTG masih belum bagus. Detak jantung baby masih di atas 160, normalnya harus di bawah 160. Saya mulai pasrah. Awalnya saya menolak caesar karena saya takut menghadapi sectio yg resikonya lebih besar daripada partus, saya merasa sudah banyak yg saya lakukan untuk mempersiapkan persalinan normal dan menjaga kesehatan saya dan baby. Saya sedih sekali.

Jam 12 malam ada pasien masuk, setelah CTG, pasien itu harus dioperasi. Penyebabnya sama, detak jantung baby di atas normal, tetapi jelas alasannya karena baby terlilit tali pusat. Malam itu saya hanya bisa berdoa dan berkomunikasi pada baby saya. Saya berusaha menenangkan dia agar dia tidak deg-degan, anggap saja mesin CTG itu mainan, anggap saja RS ini rumah sendiri, dan saya yakinkan bahwa saya baik-baik saja sehingga dia tidak perlu khawatir pada kondisi mamahnya.

Esok paginya, kondisi baby mulai normal, dokter meminta CTG ulang jam 2 sore tetapi saya harus melepas oksigen, kita lihat apa yg terjadi jika saya tidak mendapat bantuan oksigen. Siangnya sebelum CTG saya jalan-jalan ke luar ruangan, melihat baby yg baru lahir. Wah cuma ada 3 baby yg semuanya cewek dan beratnya semua di bawah 3kg. Waduh kalau kamu harus lahir baby, kamu bisa jadi ketua kelas, cowok satu-satunya dan badan paling besar pula.

Jam 2 hasil CTG di ambang batas antara normal dan terlalu tinggi, harus CTG ulang sekali lagi besok pagi. Saya meminta Bronsen pulang saja dan tidur di rumah. Karena di RS dia tidak bisa tidur dengan nyaman. Malam itu saya sendirian di RS, untungnya bisa tidur nyenyak. Pagi jam 5.30 CTG lagi, Bronsen datang 15 menit kemudian. Saya tidak mau melihat hasilnya karena saya sudah siap untuk menerima apa pun yg terjadi kali ini.

Selesai tes, saya mandi. Ternyata dokter sudah datang dan bilang doa kami dikabulkan, detak jantung baby sudah kembali normal dan saya diperbolehkan pulang, dengan catatan jika baby tidak bergerak dalam kurun waktu tertentu (dalam 6 jam tidak ada 10 gerakan), saya harus cepat ke RS.

Akhirnya, saya bahagia sekali bisa pulang hari itu, 3 malam saya habiskan di RS. Untung saja semua berakhir baik.

Terima kasih untuk Para Guru, TriRatna, dan Arya Tara atas lindungan dan berkahnya pada saya dan baby.

PS : Kontraksi palsu (Braxton Hicks) bisa terjadi karena saya keputihan atau karena saya rajin massage payudara setiap hari, dua hal itu bisa memicu terjadinya kontraksi. Kalau Bronsen kepikiran apa gara-gara naik motor yg jalannya gak bener pagi itu yah. Yah saya sih gak mau pikirin itu lagi.

Kata dokter keputihan bisa dicegah dengan tidak pakai pantyliner, sering-sering ganti CD kalau udah berasa lembab. Udah gitu kalau cebok habis pipis, dilapnya dari depan ke belakang, jangan sampai terbalik, nanti bakteri jahatnya bisa masuk vagina dan jadi keputihan. Boleh cuci vagina pakai lactacyd dan jangan keseringan wax, nanti bakteri baiknya juga ikut hilang.

Untuk sementara ini, massage payudara saya stop dulu, nanti pas genap 38minggu saya lanjutkan lagi. Toh di waktu ini, baby kan sudah boleh lahir.

Senin nanti hari terakhir saya kerja, mulai tanggal 17 saya sudah cuti, dan sekarang masih mikir-mikir jangan sampai babynya lahir tgl 20-23 Maret ini, Bronsen harus ke India lagi. Uh, bosnya Bronsen tega yah, tahu istri karyawannya lagi menunggu persalinan malah dipaksa ikut ke India. Duh baby, lahirnya sebelum Papah berangkat atau tungguin Papahnya pulang dari India yah.

2 Comments »

  1. Salam kenal mbak. Hari ini saya sudah 7 hari overdue dan blm juga kontraksi. Ini kehamilan kedua. Waktu anak pertama kalau tidak salah 6 hari overdue, trus malamnya kontraksi. Jadi gimana mbak, sudah lahir blm anaknya?

    Comment by Tina — March 23, 2010 @ 4:45 am | Reply

    • Halo Tina,
      saya udah lahiran, makanya ga sempet buka2 blog, sory jd telat replynya
      berarti kamu juga udah lahiran dong? selamat yah

      Comment by ayacerita — May 14, 2010 @ 8:29 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: