My Journey, My Story, and My Dream

June 21, 2010

Belajar Jadi Mamah

Filed under: Breastfeeding,Perempuan,Viriya — ayacerita @ 1:51 pm

Hmm, berhubung baru melahirkan dan sedang menikmati menjadi mamah, jadinya tulisannya gak jauh-jauh dari dunia ini yah.

Belajar jadi mamah untuk Viriya itu yang sekarang sedang saya lakukan, pertama kali memang benar-benar susah. Hari pertama kembali dari RS, semalamanViriya tidak bisa tidur, nangis terus, entah apa yang dimaunya, minum sudah, pipis atau pup tidak, digendong dinyanyiin diajak ngobrol, terus terang, pas diletakin di boxnya 5 menit kemudian nangis lagi, dan hal ini berlangsung semalaman sampai saya tidak bisa tidur. Jam 4 pagi saya benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur dan mata juga tidak bisa melek sampai akhirnya mamah saya yang bangun dan mendiamkan Viriya. Akibatnya saya menangis, yah saya menangis karena merasa gagal menjadi mamah untuk Viriya, sampai dia menangis pun saya tidak sanggup untuk bangun  dari tempat tidur.

Waktu awal-awal melahirkan, banyak sekali problema menghadang; proses menyusui yang tidak benar, rasa sakit akibat operasi caesar yang masih terasa nyut-nyut, pantangan dan larangan dari mamah dan mamah mertua yang kadang saya rasa gak make sense, dan merasa gagal jadi mamah karena hal di atas bikin saya hampir stres. Yang saya takutkan saya mengalami babyblues, jangan sampai deh, kalau saya stres bisa-bisa ASI saya tidak keluar padahal saya ingin sekali menyusui bayi saya. Tenang tenang dan tenang …

Saya pernah merasa bersalah sama Viriya saat waktunya minum ASI. Waktu itu jam 4 pagi, Viriya nangis minta susu, saya berikan ASI di botol, biasanya tidak sampai 5menit, ASI di botol langsung habis, tapi ini kok sudah 15menit susunya tidak berkurang sedikit pun. Saya ingat siang tadi dia ngempeng pas nenen langsung ke saya, saya pikir dia ngempeng juga ke dotnya, akhirnya saya omeli dia, saya ambil susu dari mulutnya, terus saya kasih lagi, sampai 1 jam dan akhirnya dia menangis keras. Bronsen pun terbangun dan menukar botol yang saya pakai, dan ternyata Viriya bisa minum glek glek glek, tuntas sampai habis. Ya ampun, ternyata bukan Viriya yang mau ngempeng, tapi dot botol susunya tersumbat lemak ASI sehingga dia tidak bisa sedot. Duh, maafin mamahmu ini yah Vir, sampai bikin kamu kelaparan selama 1 jam.

Jadi mamahmu pun harus punya pengetahuan yang baik tentang merawat bayi dan kondisi bayi itu sendiri. Viriya hampir tiap hari bersin 2-3 kali, kalau kata orang yang tidak mengerti katanya dia flu, pilek, padahal itu adalah mekanisme tubuhnya untuk mengeluarkan kotoran di hidungnya, justru bagus kan kalau dia bisa mengeluarkan kotoran di hidungnya?

Lain waktu saat perut Viriya kelihatan turun naik tidak teratur, dan papah saya khawatir, saya dengan tenang menjelaskan bahwa itulah cara bayi bernafas, yang masih menggunakan pernapasan perut. Saat Viriya diare dan mertua hendak beli obat Cina, saya jelaskan bahwa BAB itu merupakan proses membuang racun di perutnya, yang penting anaknya masih semangat itu tidak apa-apa, cukup diberi ASI yang banyak atau bila perlu ditambah oralit khusus bayi.

Dulu sebelum punya bayi, saya tidak pernah menggendong bayi baru lahir, takut. Takut salah gendong jadi keseleo, takut jatuh, dsb. Sekarang mau gak mau saya harus gendong bayi sendiri untuk memberikan rasa aman dan nyaman ke dia. Seram juga saya saat melihat tangan Bronsen yang besar menggendong Viriya, takut kenapa-napa juga hehe.

Sekarang pun saya masih dalam tahap belajar jadi mamah yang baik untuk Viriya, mudah-mudahan bisa yah.

5 Comments »

  1. yang pertama kali menerapkan cuti 3 bulan untuk ibu melahirkan… harus dikasih nobel

    Comment by bronsen — June 23, 2010 @ 11:45 am | Reply

  2. Blogwalking~
    Hahahaha.. Blog seorang ibu yang menarik yah!
    posting truss buuu!! Hahaha..
    Smoga anaknya sehat selalu!😀

    Comment by Si Om — June 24, 2010 @ 3:24 pm | Reply

    • Thank u … skrg baru jadi mom … sebelumnya mah lajang hehe

      Comment by ayacerita — June 25, 2010 @ 1:18 pm | Reply

  3. Aya pasti bisa lah jadi ibu yang baik…
    Tenang, feeling guilty sini-sono mah biasa – bukan berarti kita yang kurang pinter jadi orang tua, artinya itu kita sayang anak…heheheh….
    Biasa sama anak pertama paling besar feeling guilty-nya, ntar udah anak2 berikutnya makin lama makin tega – makin gak pake feeling guilty-feeling guilty-an…
    Kalo emang lagi cape, gak usah merasa bersalah untuk titip bayinya ke orang lain atau biarin bayinya nunggu, dan kamu pergi istirahat bentar – gimana pun kita kan manusia biasa😉

    Comment by Suryani — June 24, 2010 @ 6:11 pm | Reply

    • Suryani udah pengalaman yah?🙂

      Comment by ayacerita — June 25, 2010 @ 1:15 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: