My Journey, My Story, and My Dream

July 15, 2010

Bijak dalam Memilih dan Memutuskan

Filed under: Breastfeeding,Pregnancy — ayacerita @ 1:51 pm

Keren bangat yah judulnya, padahal saya cuma mau cerita tentang dokter, RS, dan ASI.

Waktu awal kehamilan sampai minggu ke 32, saya berkonsultasi dengan DSOG dr Robby. Dokternya masih muda dan sangat peduli pada pasiennya. Saat pertama kali konsultasi, saya langsung dikasih kartu nama, dan dokter berpesan, “Kalau ada apa-apa, sms aja.” Wow, jaman sekarang, susah sekali cari dokter yg mau jawab keluhan kita via sms kan?

Beberapa kali saya sms dokter kalau saya menemui keluhan selama kehamilan, dari mulai sering sakit kepala, sakit tenggorokan, dada sesak, flu, sakit maag, dan dokter pun menjawab SMS saya. Memang tidak langsung dijawab, bisa 1-3 jam kemudian, tapi saya maklum pasti dokter kan sibuk ada pasien atau bahkan ada operasi, makanya setelah saya sms, biasanya saya menanti-nantikan reply si dokter.

Waktu awal-awal kehamilan sih, setiap kali kontrol paling lama tunggu 1/2 jam, udah dapet giliran, tapi makin tua usia kehamilan  saya, ya ampun, pasien si dokter tambah banyak, rekor nunggu 5 pasien selama 1 jam lebih. Yah kalau pasien banyak kan berarti si dokter tambah dipercaya sama pasien, apalagi selain peduli bangat sama pasien, dokter juga pro normal. Dia gak akan mau caesar kalau tidak terpaksa bangat.

Selagi menikmati konsul dengan dokter Robby, mulai deh mikir-mikir biaya persalinan, cari tahu sana-sini, eh alah, mahal bener yah biaya persalinan itu, apalagi kalau sectio. Dari kantor Bronsen sih sebenarnya cover biaya melahirkan tapi harus melahirkan di RS provider, dan sampai kandungan 7 bulan saya masih belum menemukan dokter yang sreg di RS provider. Sambil mikirin biaya persalinan, saya juga mulai cari-cari tahu soal ASI dan IMD, dan mengikuti forum sesama pasien dokter Robby di salah satu forum di internet. Dan jreng jreng … saya baru tahu kalau RS yang selama ini saya kunjungi ternyata kurang pro ASI dan IMD.

Bayi-bayi yang baru lahir langsung dipisahkan dari ibunya di satu ruang terpisah, bayi hanya diberikan ke ibu pagi dan sore dengan waktu yang hanya 1/2 jam saja, jadi bagaimana bisa kasih ASI kalau bayi aja dipisah gitu, terus ternyata semua bayi di sana langsung dikasih sufor tanpa permisi dulu dengan ibunya. Ya ampun, cukup mengecewakan menurut saya. Ada sih yang bisa kasih ASI ke bayinya, tapi harus dirawat di ruang kelas 1 dimana hanya ada 1 tempat tidur di ruang itu, dan bayinya baru bisa rooming-in tapi dengan resiko bayinya benar-benar dirawat sendiri, tanpa dibantu suster, kecuali mandi pagi. Waduh susah bener kayanya mau ASIX  kalau melahirkan di sana yah.

2 istri teman kantor saya pun akhirnya tidak bisa memberikan ASI ke bayinya karena bayi mereka sudah diberikan sufor dari RS, padahal salah satu dari mereka payudaranya sudah bengkak, tanda ASI sudah berpoduksi, tapi karena ketidaktahuan dan tidak ada informasi yang benar, ASInya malah jadi sedikit dan akhirnya stop.

Cerita ini membuat saya berpikir ulang untuk melahirkan di RS tempat dokter Robby praktek, padahal saya dan Bronsen sangat senang dan nyaman berkonsultasi dengan dokter Robby, dan inginnya pas lahiran pun dengan beliau, tapi apa daya akhirnya saya mulai berkonsultasi dengan dokter Shinta di RS MMC. RS ini kebetulan adalah provider asuransi dari kantor Bronsen, dan ternyata saya tidak salah memilih, dan keputusan kami memang tepat.

Dokter Shinta adalah dokter yang pro ASI, mungkin karena dia adalah perempuan dan juga mempunyai pengalaman menyusui bayinya, jadi dia selalu berpesan pada saya untuk mempersiapkan diri agar dapat menyusui kelak.

Dari awal konsul ke dokter Shinta, saya sudah meminta untuk IMD pas melahirkan, tapi karena ruang operasi yang dingin, saya tidak tega lama-lama IMD. Tapi begitu saya masuk ruang perawatan, saya langsung meminta bayi saya, dan sambil tiduran miring (padahal masih sakit karena operasi), saya berusaha untuk menyusui Viriya. Suster dengan sabar dan telaten mengajari cara menyusui dan pelekatan yang benar. Suster pun komit akan keputusan saya untuk ASIX, jadi mereka sama sekali tidak memberikan sufor ke bayi tanpa seizin ibunya.

Dengan pengetahuan bahwa bayi yang baru lahir memiliki cadangan makanan yang dapat bertahan 2×24 jam, saya dan Bronsen pun berusaha untuk tidak tergoda buru-buru memberikan sufor saat Viriya nangis. Memang tidak tega mendengan Viriya menangis, tetapi kami berusaha bertahan.

Pada akhirnya memang saya memberikan sufor ke Viriya karena berat badannya yang turun 400gram, takut dehidrasi, akhirnya dengan berat hati saya menandatangani surat pernyataan untuk memberikan sufor ke bayi saya. Tapi sesuai komitmen dari RS, sufor yang diberikan ke bayi pun diberikan dengan sendok bukan botol susu dengan dot, takut bayinya bingung puting, dan tidak mau menyusu ke saya langsung nanti.

Sampai akhirnya di hari ke3 malam hari, saya berhasil memompa 40ml colostrum yang berwarna kekuningan dari payudara kanan saja. Wah, senang bangat, jumlah segitu sudah cukup untuk bayi baru lahir dan colostrum yang sangat berguna bagi kekebalan tubuh Viriya bisa diminum oleh Viriya tanpa ragu.

Sampai saat kepulangan dari RS, suster pun berpesan agar saya tetap menyusui Viriya dan belajar posisi pelekatan yang benar. Sungguh pada akhirnya saya tidak menyesal pindah dokter dan RS karena pada akhirnya saya berhasil memenuhi hak bayi saya untuk mendapatkan makanan terbaik baginya di dunia ini, yaitu ASI.

1 Comment »

  1. bijak sana atau bijak sini……?……………………………………………………..
    …..nice………………..

    Comment by faza — July 19, 2010 @ 1:38 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: