My Journey, My Story, and My Dream

September 2, 2010

Mau Kemana, Naik Apa

Filed under: Our Transportation — ayacerita @ 1:58 pm

Di hari ulang tahun saya tahun lalu, tiba-tiba seorang teman kantor lama telepon. Saya pikir dia mau ngucapin met ultah nih.

“Yen?”

“Yah?”

“Gw mau ke Cibubur hari Senin nih Yen, naik apa dari CL yah?”

“@#$!!!$**$#//$@! (sensor) gw pikir loe mau ngucapin met ultah, malah nanya rute angkot, huehuehue.”

Ini bukan kejadian satu kali dua kali ada teman atau saudara nelepon hanya mau bertanya naik angkot/bus apa menuju ke suatu lokasi. Sejak kapan saya jadi kondektur yah?

Semua ini bermula karena kebiasaan saya dari kecil yang gak bisa tidur kalau di kendaraan. Alhasil yang saya lakukan adalah melihat mobil-mobil yang berseliweran dan membaca rute angkot yang terlihat. Lama kelamaan saya hafal bis nomor sekian arah kemana, angkot nomor ini rutenya kemana saja, kalau mau ke 1 tujuan, naik angkot apa. Ingatan yang menurut saya malah makan space sia-sia di otak saya ini.

Gara-gara itulah banyak bangat yang nanya saya kalau misalkan mereka harus ke tempat baru dan bertanya, “naik apa yah?” dan 100% dari yang bertanya tidak mengharapkan jawaban “naik taxi aja”. Sombong bener kan tuh?

Tapi yah dari pertanyaan ini, kesimpulan kecil yang bisa saya ambil ternyata masih banyak yah orang-orang yang memang menggantungkan mobilitasnya pada angkutan umum, walaupun mobil pribadi dan motor sudah ribuan jumlahnya di Jakarta ini. Padahal angkutan umum di ibukota benar-benar jauh dari ideal. Lihat saja bodi metromini yang penyok-penyok bagaikan kaleng kerupuk, ataupun bus PPD yang AC-nya jadi AD (Angin Doang). Kalau di jalan, saya paling ogah keserempet bajaj, sudah gak keren, lukanya bisa tetanus pula.

Waktu pertama busway hadir, bangga bangat rasanya naik bis murah, AC, dan gak pake antri dan gak pake macet. Eh, lama kelamaan kok yah busway jadi seperti angkutan umum yang lain. Bisnya jarang, penumpang menumpuk di halte, waktu tunggu yang bisa sampai 1/2 jam, desak-desakan di halte transit (lihat deh kalau sore di halte Landmark, penumpang antri sampai ke jembatan penyebrangan), AC yang jadi panas, dan bisa kena macet juga. Waduh jadi kok ga ada nilai tambah kalau naik busway yah?

Saya sendiri juga sebenarnya lebih memilih naik angkutan umum. Coba deh kalau ke mall atau Mangga Dua waktu weekend. Kalau naik angkot, tinggal turun di depan gedungnya, masuk, langsung deh shopping. Kalau bawa motor atau mobil mesti ke basement atau gedung parkir, putar-putar dulu cari parkir, terus kalau dapat tempat parkirnya jauh dari toko yang dituju, duh jalan kakinya jauh bangat (pernah gak parkir di west mall GI padahal sebenarnya mau ke east mall? Mantap kan tuh jalan kakinya).

Tapi kondisi sekarang memang membuat orang lebih memilih beli motor atau mobil baru daripada naik angkutan umum; kecuali teman-teman saya di atas, yang setia nanya saya rute angkutan umum buat menuju ke suatu tempat tertentu.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: