My Journey, My Story, and My Dream

September 3, 2010

Mulut dan Bicara

Filed under: Viriya — ayacerita @ 2:47 pm

Orang tua saya bukanlah orang tua yang sempurna, tapi saya sangat menghormati mereka.

Cara mereka mendidik saya juga mengalir saja, tidak perlu baca rubrik psikologi atau pendidikan anak di majalah, apalagi baca internet. Tapi satu hal yang ingin saya tiru dari mereka saat mendidik saya dan adik saya, dan juga ingin saya terapkan saat saya mendidik Viriya.

Orang tua saya tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar di depan saya dan Denny. Boleh percaya boleh tidak, sampai dewasa gini, saya dan Denny tidak pernah ngomong “gw” dan “elo” kalau mengobrol (Bagi sebagian masyarakat, kata gw-elo masuk dalam ucapan yg tergolong tidak sopan/kasar). Denny dengan setia panggil saya, “cici”. Biasanya kan kalau saudara apalagi waktu masih kecil, kalau berantem, pasti deh itu kata “gw, elo” atau kata-kata kebun binatang keluar semua dari mulut, tapi untunglah, kami tidak pernah berantem kaya gitu. Berantem sih sering tapi lebih sering ngatain “gendut” (dulu kan saya gemuk) atau “goden” (kepala Denny gede hehe). Udah gitu aja.

Di sekolah saya baru berani ngomong “gw-elo”, di rumah saya baru berani ngomong begitu di rumah, di depan orang tua saat sudah kelas 5 SD. Boleh ngomong “gw-elo” sama teman sebaya, tidak ngomong sama orang yang lebih tua ataupun yg lebih muda.

Mamah saya galak, tapi tidak pernah bilang saya “bodoh” walaupun saya tidak bisa melakukan sesuatu. Pernah satu kali papah saya bilang saya “bodoh” waktu saya masak air di panci gede padahal waktu itu yang dibutuhkan cuma 2 gelas air panas untuk sembahyang yg sebenarnya bisa masak airnya di panci kecil saja. Waktu itu saya sedih bangat, gak pernah tuh sebelumnya dibilang bodoh gitu. Dan saya juga tahu, Papah saya juga pasti berat ngomong begitu. Sudah … saat itu saja saya dibilang bodoh oleh mereka, selebihnya tidak pernah lagi terdengar dari mulut mereka.

Itulah yang ingin saya terapkan ketika mendidik Viriya nanti. Menjaga mulut, tidak berkata kasar sehingga menyakiti orang lain yang mendengar, dan juga tidak berkata kasar walaupun hanya bertujuan untuk bercanda. Saya tahu hal ini mesti dimulai dari saya sendiri dan Bronsen dengan tidak berkata kasar di depan Viriya karena anak kecilkan masih suka mencontoh tindakan orang dewasa di depannya.

Mudah-mudahan saya bisa yah!

4 Comments »

  1. Istriku… pasti berat ya nikah ama orang medan… (geleng geleng)

    Comment by Bronsen — September 3, 2010 @ 7:24 pm | Reply

  2. agreed🙂

    Comment by Jutedy — September 6, 2010 @ 11:47 am | Reply

  3. wakakakk.. emang napa dengan orang medan, sen? ^^

    Comment by Annz.. — September 8, 2010 @ 8:30 pm | Reply

    • Karena 2 dari 3 orang Medan, gaya bicaranya relatif kasar, sisa 1 nya lagi dengerin dulu baru nimpalin… hu hu hu… Paling nggak ini hasil poling gua selama naek kereta bersama J dan J (pas bertiga kan?) yang merupakan orang medan dan sekitarnya…

      Comment by Bronsen — November 15, 2010 @ 11:55 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: