My Journey, My Story, and My Dream

January 17, 2011

Bayar setengah atau penuh?

Filed under: Our Transportation — ayacerita @ 1:16 pm

Masih dongkol nih, gara-gara tadi pagi diturunin di tengah jalan sama angkot B06, yang seenaknya putar balik dan nganterin penumpang sampai terminal Kota, sudah gitu maksa minta ongkos lagi. Grrr, saya kasih seribu saja, sambil bilang, “Saya gak mau bayar penuh, Bapak aja nganterin saya cuma setengah jalan.”

Padahal waktu mau naik dipaksa dibujuk supaya naik, sambil bilang, “Kota, Kota!” Sudah naik, di jalan penumpang tinggal berdua, main putar balik aja, dipaksa turun dan disuruh bayar pula.  Saya rugi dong kalau harus bayar penuh. Biasa bayar sampai terminal Kota Rp 2.000,- kalau di tengah jalan saya harus bayar Rp 2.000,- nanti pas nyambung angkot lain harus bayar Rp 2.000 juga. Total jadi Rp 4.000,- rugi di saya, enak di supir B06.

Kejadian menurunkan penumpang di tengah jalan memang menjadi kondisi “wajar” di tengah carut marut transportasi di Jakarta. Saya memang pernah diminta pindah sama B06 juga, karena saya tinggal sendirian, dan si supir meminta dengan sopan untuk pindah dan gak minta bayaran. Ok, saya terima kalau begitu, saya juga gak rugi walaupun harus keluar tenaga untuk cari angkot lain, yang kebetulan ada di sebelahnya.

Yang paling sering diturunkan sama metromini/kopaja, dan paling sering lagi sama 502 rute Kampung Melayu – Tanah Abang. Kalau penumpang di bawah 10 orang, langsung saja maksa pindahin penumpang, padahal sudah enak-enak duduk, jadi harus berdiri di kopaja yang lain, memang sih gak keluar ongkos lagi, tapi tolong dong, dimana sih tanggung jawab jadi supir dan kondektur. Situ udah minta hak mungut ongkos (bahkan pantat aja belum nempel bener, kenek udah kecrek-kecrek minta ongkos), tapi hak penumpang untuk diantarkan ke tempat tujuan gak dipikirin. Seenaknya mindahin penumpang. Gak jarang ada penumpang yang marah dan komplain, termasuk saya.

Yang paling sebal, pernah naik metromini ke Pasar Minggu, diturunin di dekat jembatan penyeberangan yang mana masih berjarak 50-100 meter lagi dari terminal. Semua penumpang dipaksa turun, alasannya “macet” jadi malas masuk terminal, maunya langsung putar balik (padahal malah bikin tambah macet kan?), yang aneh didekat sana ada polisi, yang gak mungkin gak tahu ada penumpang diturunin paksa dan metromini yang mau putar balik gak masuk terminal, tapi diam saja ‘menyaksikan’ penumpang yang harus rela jalan kaki, padahal sudah bayar penuh!

Kalau begini, gak heran orang pada beli kendaraan pribadi karena naik kendaraan umum sama sekali tidak nyaman dan belum tentu sampai di tujuan. Jadi Bapak/Ibu pejabat yang berwenang mengurusi masalah pertransportasian, pernah gak sih naik kendaraan umum di Jakarta? atau kalau belum pernah, coba deh sekali-sekali naik angkot/bus kota, rasakanlah, sadarilah, kalau sudah merasakan, setidaknya bisa menjadi dasar untuk membuat kebijakan transportasi massal yang aman dan nyaman.

Kalau Bapak/Ibu belum merasakan, yah gak heran untuk mengatasi macet, malahan BBM subsidi yang dibatasi atau bangun flyover lagi, jalan tol lagi, atau malah menaikkan tarif KA ekonomi. Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah transportasi umum. Kalau bis nyaman (gak harus ada AC), gak harus ngetem yang bikin lama, gak ada penodong/pengamen, larangan merokok di dalam angkot dipatuhi, gak perlu disuruh/dipaksa naik transportasi umum juga kita-kita bakal sadar sendiri pindah ke angkot/bus kota. Memang siapa sih yang mau capek-capek nginjek kopling di tengah kemacetan Jakarta kalau bisa tinggal duduk, bayar, tidur, sampai deh di kantor.

Itu kabar MRT/monorail gimana yah?

Uh, kalau ingat gini, jadi ingat dulu pernah bercita-cita mau jadi Menteri Perhubungan, ada yang minat gak yah?

3 Comments »

  1. Setuju ga klu semua angkutan umum pintunya setinggi bus transjakarta dan halte bus yang ada di trotoar ditinggikan setinggi pintu masuknya… Jadi setiap orang wajib jalan menuju halte untuk naik angkutan tsb, dan ga bisa turun seenaknya sendiri….So, sebenarnya klu ini diterapkan, ga perlu adanya 1 lajur khusus untuk proyek busway kan…??

    Comment by Yeherdian — January 17, 2011 @ 2:59 pm | Reply

  2. Yeheee … idenya orisinal bgt .. coba kasih tahu ke yang “ahlinya” Jakarta, kali aja didengerin tuh.

    Comment by ayacerita — January 19, 2011 @ 1:32 pm | Reply

  3. mana mungkin mau….ga ada dana kucuran proyek yang besar untuk itu… Yang gampang kan comot ide luar, buat satu proyek baru, dananya gede, cipratannya juga gede…. Tau sendiri kan pemikirannya pejabat kita….

    Comment by Yeherdian — January 21, 2011 @ 6:48 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: