My Journey, My Story, and My Dream

February 9, 2011

Obat dan Anak

Filed under: Curhat emak-emak — ayacerita @ 2:12 pm

Tergelitik dengan ucapan salah seorang rekan,

“Anak gw mah lebih cocok pakai Sanmol daripada Tempra, panasnya lebih cepat turun!”

Mungkin gak cuma rekan saya yang pernah berkata seperti ini, banyak orang juga demikian. Beredarnya beragam merk obat bebas untuk meredakan flu juga begitu, lebih cocok pakai bodrex daripada procold, enakan pakai sanaflu daripada decolsin. Padahal isinya sama saja.

Sanmol dan Tempra, isinya sama-sama paracetamol, sama seperti Panadol biru dan Termorex. Fungsinya yang hampir seluruh orang akui adalah meredakan nyeri dan demam. Jadi kalau isinya sama, mengapa kita merasa efeknya berbeda?

Sekian tahun bekerja di salah satu perusahaan farmasi besar di Indonesia dan berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan orang bagian produksi dan marketing, membuat saya mempunyai satu kesimpulan : “Kalau bisa pake generik, yah generik aja.”

Yah obat generik indikasinya tidak berbeda dengan obat-obatan bermerk dengan harga yang cukup terjangkau. Misalkan saja saya ambil contoh kandungan “kotrimoksazol”, obat yg bermerk untuk 1 kemasan isi 100 tablet forte harganya Rp 690 ribuan, sedangkan generiknya ada yang harganya Rp 80 ribuan saja bahkan ada yang hanya Rp 51 ribuan per 100 tablet. Selisihnya besar kan?

Terus timbul pertanyaan: masa iyah yg harganya mahal sama harganya murah indikasinya sama? Bahan-bahannya pasti beda duuonkkk!!! (mulut monyong)

Saya bilang sekali lagi “sama”. Beda harganya itu karena biaya promosi perusahaan farmasi ke you-know-who lah. Karena itu sekarang setiap kali saya mendapatkan obat dari Dokter, biasanya saya cek dulu kandungan obatnya, ingat yah kandungannya, seperti paracetamol/ibuprofen/amoxicilin, bukan hafalin merknya, terus kalau gak diganti kantor, boleh-boleh saja saya ambil obat yg bermerk, tapi kalau dari kantong sendiri, lebih baik saya pakai generik saja, khasiatnya sama kok.

Balik lagi ke judul postingan kali ini. Setiap kali anak sakit, memang kita khawatir apalagi sebagai orang tua baru yang pastinya lihat anak lemas atau panas langsung pengennya bawa ke dokter saja. Nah sampai dokter, seringkali kita dioleh-olehin obat, dan seringkali juga langsung kita minumkan ke anak kita tanpa pernah kita tahu obat apa sih yang diminum sama anak kita.

Perbandingannya gini, kita mau beli laptop, dari jauh-jauh hari kita browsing atau nanya-nanya teman yang ahli kira-kira laptop kaya apa yah yg mau kita beli, spec-nya gimana, bisa putar DVD gak, ada wifi-nya gak, ada garansinya gak. Repot bangat karena kita ingin mendapatkan yang terbaik.

Tetapi kalau kita mau ke dokter pas anak sakit, pernahkah kita browsing dulu, “ih anak gw panas nih, demamnya sampe 39.5 der-cel, kulitnya gimana, sikapnya gimana, muntah apa enggak” dari tanda-tanda itu kita browsing dulu kira-kira anak kita kenapa yah, bagaimana home-treatmentnya, kapan harus dibawa ke dokter, terus obat apa yang tepat buat anak kita. Jika pun kita bawa ke dokter dan dikasih resep, apakah kita “sempat” tanya si dokter atau apoteker, “Ini obat apa sih Dok? Kok anak saya dikasih obat ini Dok? Efek sampingnya apa Dok? Ada generiknya gak Dok?”

Yang biasanya terjadi kita langsung tebus resep dan minumin obat ke anak kita itu, padahal kalau misalkan kita mau serepot seperti beli laptop, kita pastikan untuk sempat browsing misalnya ke http://www.medicastore.com atau http://www.drugs.com kandungan obat dan segala indikasi serta efek sampingnya.

Terus kebiasaan dokter di Indonesia dalam memberikan resep obat ke anak kecil, sebagian besar ‘hobi’ bangat kasih puyer (a.k.a beberapa macam obat yang digerus jadi satu terus dibungkus per sekali minum), dan sebagai orang tua lagi-lagi kita pasrah aja anak kita dikasih puyer. Pernah satu orang teman kantor saya dapat puyer buat bayinya yang lagi batuk pilek dan di dalam resep puyer itu ada 7 (TUJUH) jenis obat! Bayangkan deh, bayi yang baru 10 bulan tapi sudah dikasih 7 jenis obat, dan di dalam puyer itu terkandung 2 macam vitamin (emang perlu yah sampe 2 macam vitamin gitu?) dan antibiotik (batuk pilek kok dikasih antibiotik, gak nyambung.com), 4 macam lainnya saya lupa.

Menurut hasil browsingan, konon hanya di Indonesia lho ada puyer, di negara-negara lain gak ada itu puyer. Bahkan dokter yang resepin puyer itu sempat diprotes oleh farmasi. Alasannya karena untuk menciptakan 1 macam obat itu susah saudara-saudara, uji coba bertahun-tahun, dan berapa dosis yang tepat diberikan ke pasien juga melibatkan ujicoba yang tidak murah dan mudah. Pernah lihat Rhinos? Itu tuh obat kapsul yang di dalamnya ada butiran-butiran warna kuning, merah, biru (cmiiw). Itu proses masukin butiran yang warna merah/kuning/biru itu gak boleh sembarangan, ditimbang sampai dengan skala terkecil, gak boleh lewat sedikitpun.

Nah, bandingkan dengan puyer. Yang dicampur terus digerus terus dibagi-bagi, yang ukurannya hanya “divided by eyes”, yah mata yg lagi gerus, apakah pasti tepat antar tiap bungkusan itu? Hanya abang bajaj yang tahu.

Terus kalau misalkan ada lagi pertanyaan, “Kalau nanya kebanyakan ma dokter, kesannya kok jadi sok tahu gitu, merasa lebih pintar dari dokter”

Lah yang merasa lebih pintar dari dokter itu siapa? Siapapun tidak akan meragukan kepintaran dokter-dokter. Ingat passing grade FKUI pasti paling tinggi setiap tahun kalau UMPTN, jadi gak akan ada yang meragukan kualitas dokter-dokter kita. Yang kurang adalah komunikasi, yah sebagai pasien seharusnya kita berlaku sebagai konsumen kesehatan, jadi jangan asal nrimo. Cari dokter yang bisa diajak ngobrol dan komunikasi, jangan cari dokter yang nunggu antrinya 1,5 jam tapi diperiksanya gak lebih dari 5 menit dan harus bayar jasanya Rp 250ribu (jadi curcol).

Jadi mari belajar jadi orang tua yang pintar, apalagi buat pasangan yang baru saja pecah telur baru dapat bayi. Wuih, selamat selamat ^^ Anak sakit gak perlu panik biar bisa rasional.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: