My Journey, My Story, and My Dream

February 14, 2011

Eksklusivitas Seorang Cucu

Filed under: Keluarga — ayacerita @ 3:55 pm

Saya memanggil nenek saya dari pihak mamah dengan sebutan “Memeh”. Seharusnya saya bisa memanggilnya dengan sebutan “Emak” tapi entah kenapa lebih sreg memanggil nenek dengan Memeh.

Tidak hanya saya, 5 orang cucunya yang lain juga demikian. Kami ikut-ikutan memanggil Memeh seperti halnya orang lain memanggilnya demikian. Mamah saya memanggilnya Memeh, papah saya juga. Seluruh keponakan dan saudara-saudara lain, bahkan tetangga-tetangga pribumi pun demikian.

Memeh, sebuah panggilan yang mudah diingat dan sederhana.

Dan panggilan ini begitu melekat pada nenek saya ini. Kalau ada orang nanya rumah Memeh dimana? Pasti semua orang akan tahu. Termasuk tukang becak dan tukang ojek.

Yang terkenal dari Memeh adalah tauconya. Yah, di rumah, Memeh membuat tauco (homemade), dibuat sendiri dari bahan-bahan yang ada. Tauco memeh sungguh terkenal, coba tanya ke tetangga-tetangga, tidak ada orang yang tidak tahu Tauco Memeh.

Saat meninggal di tahun 2008 lalu, 3 bulan menjelang pernikahan saya, salah satu yang hilang adalah tauco memeh. Tidak ada lagi yang meneruskan usaha itu. Saya kangen saat-saat proses pembuatan tauco oleh memeh, walaupun saya gak doyan tauco. Mendengar suara pisau beradu dengan talenan saat Memeh dengan tangannya yang cekatan mencacak butiran-butiran kacang kedelai di pagi hari. Siangnya, saat gerimis, Memeh lantas berteriak, “Enih hujan!” saya pun langsung berlari keluar rumah dan memakai sandal (ini kebiasaan yang sulit dihilangkan, saya amat sangat susah disuruh nyeker bila keluar rumah, walaupun sedang terburu-buru seperti ini), menuju ke tempat penjemuran dan buru-buru mengangkat tampah-tampah yang terbuat dari bambu yang berisi kacang kedelai yang baru saja dicacak itu.

Tetapi sekarang tidak ada lagi yang membuat tauco. Tampah-tampah tertumpuk rapi. Panci besar yang khusus dibeli dari Yogya, yang saking besarnya bisa memuat 1 ekor kambing utuh sekaligus, sekarang teronggok begitu saja. Semua bingung panci itu harus diapain karena terlalu besar.

Lebih dari semua kehilangan itu saya menyadari satu hal.

Saat tokong (pemimpin upacara kematian orang Tionghoa) memanggil sanak saudara satu persatu untuk sembahyang. Dimulai dari anak, menantu, cucu, buyut, adik-kakak, ipar, keponakan, dan siapa pun yang merasa ingin mengirimkan doa untuk Memeh dipanggil satu persatu oleh tokong. Saat itu saya merasa bahwa ketika semua orang memanggil memeh dengan sebutan “Memeh”, saya merasa eksklusivitas saya sebagai cucu hilang. Yah karena bukan cuma saya yang memanggilnya dengan sebutan Memeh, tapi semua orang juga memanggilnya demikian, bahkan sang tokong juga memanggil Memeh.

Mungkin perasaan ini adalah suatu bentuk keegoisan, saya merasa hak saya sebagai cucunya hilang, saya merasa tidak bisa memiliki Memeh secara ekslusif, mengapa semua orang ikut-ikutan manggil “Memeh” sih? (Padahal sebenarnya sayalah yang ikut-ikutan orang-orang itu). Sempat rasa sesal menghampiri, kenapa saya tidak memanggil Memeh dengan “Emak”, atau “Nenek”, atau “Oma”, atau “Popoh”, pokoknya sebutan apa saja yang menunjukan legalitas saya sebagai cucunya.

Terus kalau sudah begitu, lalu apa?

Pada akhirnya saya tetap harus menerima dan mengakui, bahwa Memeh memang milik semua orang. Memeh bukan hanya milik saya atau milik keluarga saya.

Saya seharusnya bangga bahwa begitu banyaknya orang yang memanggil memeh pada memeh saya pada saat kepergiannya menunjukkan banyaknya orang yang juga mengasihinya dan merasa kehilangan atas kepergiannya.

Saya juga bangga hingga saat ini tidak ada memeh lain yang bisa menggantikan posisinya di pemukiman saya. Setidaknya, di Jalan Perjuangan Bekasi, dari Bulan-bulan, Teluk Buyung, sampai ke ujung Babelan hanya ada satu Memeh yang dikenal, yakni Memeh Elly yang menjual tauco.

** PS: yang lagi kangen Memeh, dengan kebaya encimnya dan rambut panjang yang digelung jadi sanggul dan ditusuk pakai korekan kuping.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: