My Journey, My Story, and My Dream

March 10, 2011

Jalanan Ibu Kota

Filed under: Our Transportation,Simple n ringan aja — ayacerita @ 2:18 pm

Baca majalah Reader Digest edisi Maret ini, di salah satu artikelnya ada pernyataan bahwa di tahun 2010 kecepatan mobil di Jakarta hanya 8,9km/jam! Dan katanya akan bertambah lambat di tahun 2011 dan ke depannya nanti kalau saja kondisi jalanan ibu kota masih seperti ini.

Banyak orang yang berusaha memberikan solusi ke Pemkot DKI, dari mulai pakar transportasi ternama dari universitas keren sampai tukang becak juga gak kalah ngasih saran. Mulai dari menambah jalan, memperbaiki sistem transportasi umum, sampai melarang sepeda motor masuk ke jalan utama Jakarta, yang kemudian banyak menuai protes dari bikers. Yah iyalah, gimana gak mau protes, naik motor kan karena sudah hopeless sama bis umum yang jalannya lambat sering ngetem dan kena macet, lebih enak naik motor, lebih cepat sampai kantor. Coba lihat deh salesman, biasanya diminta punya motor dari pada punya mobil, karena kalau naik motor bisa cari klien/customer lebih banyak dari pada salesman yang naik mobil dalam sehari.

Terus melihat tren perumahan baru sekarang yang umumnya membangun rumah dengan sistem cluster yang menuntut orang harus punya kendaraan sendiri, yah motor atau mobil. Gak mungkin kan jalan kaki kalau mau ke pasar atau supermarket terdekat, kan gak boleh di dalam cluster ada rumah yang dijadikan tempat usaha. Berarti harus keluar cluster, berarti harus ada kendaraan, minimal sepeda lah, tapi kalau mau belanja banyak, mana bisa dibawa dengan naik sepeda.

Kondisinya ditambah lagi dengan angkot gak boleh masuk kompleks, jadilah orang yang tinggal di perumahan/cluster itu turun dari angkot di depan kompleks, yang masih harus jalan ke dalam lagi sejauh 200-500 meter. Ada ojek atau tukang becak, sekali naik bisa Rp 5ribu. Setiap hari habis Rp 10ribu. Sebulan habis Rp 200ribu cuma buat ojek, lebih baik duitnya buat bayar cicilan motor. Jadilah ada 1 orang tambah lagi yang punya motor.

Pernah ke Kota Wisata di Cibubur? Dari gerbang masuk ke kompleks perumahan jauhnya … komentar mamah saya pertama kali waktu kesana: “Jauh bangat ke dalamnya, ini mah jadi gak bisa kemana-mana kalau sudah di rumah.”

Kalau semua perumahan baru punya konsep serupa, andai saja 1 perumahan punya 5 cluster, 1 cluster ada 200 rumah. Berarti setidaknya ada seribu mobil. Wow, bayangkan deh kondisi setiap pagi pas jam berangkat kerja, sur sur sur, meluncur satu persatu mobil dari dalam cluster, sudah kebayang deh macetnya.

Untung saja ada beberapa perumahan yang menyediakan shuttle bus, jadi gak usah repot bermacet-macet ria, cukup duduk manis di dalam bus dan tidur lagi, sampai deh ke kantor. Tapi jumlahnya masih terbatas sekali, dan terbatas juga jam operasionalnya.

Untung juga masih ada kereta, kalau rumah lebih dekat ke stasiun kereta lebih baik naik kereta, berapa ribu orang yang bisa diangkut setiap harinya ke Jakarta tuh. Walaupun masih sering error, lebih sering telatnya daripada tepat waktunya (penumpang kereta lebih heran ngeliat kereta datang tepat waktu daripada datang terlambat), kereta tetap dicinta dan dipilih kembali.

Dulu semasa tinggal di Bekasi, sengaja cari kerja yang kantornya di daerah yang dilewati jalur kereta api. Biar mudah dan cepat sampai. Tapi akibatnya saya sempat dicap gak mau pulang malam, yah karena kereta terakhir waktu itu jam 18.30. Dan kalau telat naik kereta akibatnya malah jadi parah sekali. Pulang jam 7 sampai rumah bisa jam jam 9-10. Terus kalau dipaksa pulang malam sampai jam 9, tidak ada uang transport untuk bayar taksi, disuruh tanggung sendiri. Lah, jadi apa untungnya saya pulang malam kalau gitu coba? Jadi saya lebih senang datang lebih pagi dengan kereta pertama, tapi pulang juga on time, ogah ketinggalan kereta lagi.

Yah, saya juga pasti adalah salah seorang warga Jakarta yang bermimpi bisa menikmati jalanan ibu kota dengan santai. Tidak stres selalu terjebak macet. Dulu macet cuma pas jam kerja, sekarang baru di atas jam 9 malam jalanan bisa kosong. Tidak kehilangan peluang karena kelamaan di jalan. Jangan sampai 1/2 umur sebenarnya ada di jalanan nan berdebu itu.

Kata Gubernur DKI, MRT bukan mimpi. Ok lah kalau bukan mimpi, jadi seharusnya sebentar lagi kita bisa naik MRT dong yah Pak Gub?

6 Comments »

  1. bermimpi… apakah ketika aku pulang ke ind masalah kemacetan telah teratasi dan telah ada mrt😀

    Comment by zener_lie — March 10, 2011 @ 7:16 pm | Reply

    • Tetaplah bermimpi Zen, atau kalo gak, pas loe balik sekalian bawa tuh gerbong2 kereta bekas dari Jepang, nunggu dana dari pemerintah prosesnya lama, padahal di sini udah butuh.

      Comment by ayacerita — March 11, 2011 @ 8:48 am | Reply

  2. bagus artikelnya…, brdasarkan pndapat yg ddukung dg fakta dan pngalaman.

    Ga coba dkirim k media massa kah??
    n.nv

    Comment by Edoh — March 10, 2011 @ 9:13 pm | Reply

    • Thanks jempolnya (sy anggap “bagus” itu jempol yah hehe)
      Gak usahlah, saya mau jadi penulis independen aja, dari sudut pandang “working mom with one son yg harus tiap hari bergelut dgn jalanan ibukota” piiuuhhh

      Comment by ayacerita — March 11, 2011 @ 8:47 am | Reply

  3. Andai saja peningkatan junlah sepeda motor juga disertai peningkatan kesabaran dalam berkendara, tidak nyelonong lampu merah, tidak melawan arah, tidak nyalip sana nyalip sini…. Andai… oh,,, andai saja…..

    Comment by yeherdian — March 12, 2011 @ 10:48 am | Reply

    • Jadi “bersabar” pun butuh mimpi gitu?

      Comment by ayacerita — March 14, 2011 @ 11:04 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: