My Journey, My Story, and My Dream

April 26, 2011

Ada Apa dengan Supir Angkot?

Filed under: Our Transportation — ayacerita @ 2:59 pm

Sabtu kemarin saya naik angkot di depan stasiun KA Bekasi yang mengarah ke rumah saya. Penumpang sudah 6 orang, tapi supir dan kenek yg duduk di sebelahnya, masih keukeuh teriak-teriak cari penumpang sambil nengok ke kiri. 5 menit gak jalan-jalan, hati mulai dongkol, di belakang pun kelihatannya ada polisi deh, refleks, saya teriak ke abang supir, “Cepetan Bang jalan, ada polisi tuh di belakang!”

Seorang ibu di sebelah saya menjawab, “Lah itu di depan udah ada polisi, udah ditangkap supirnya.”

Eh, saya pun kemudian menengok ke arah si supir dan kenek yang cengengesan, saking semangatnya cari penumpang dengan menengokan kepalanya ke arah kiri, sampai lupa lihat ke depan sudah ada polisi menghadang. Surat-surat pun ditahan tapi mobil masih bisa jalan. Katanya sih nanti ditebus dengan biaya sekian-sekian. Aduh B ang, coba gak usah ngetem, dari tadi jalan, gara-gara mau dapat dua ribu rupiah, masa harus melanggar lalu lintas dan keluar duit jauh lebih banyak buat nebus surat-surat kendaraan.

Senin sore kemarin, lagi-lagi saya naik angkot, eh kebetulan banyak polisi, jadi gak bisa naik angkot pas di depan stasiun, harus jalan dulu 10 meter, dan beberapa angkot ngetem di sana (kuasa polisi mungkin cuma 5 meter kalo bisa diukur yah?), saya pun naik. Di dalam angkot sudah ada kurang lebih 7 orang, saya pikir pas saya naik angkot langsung jalan, eh ini masih ngetem lagi, dan saat pak polisi bergerak ke arah stasiun, si supir angkot pun memundurkan angkotnya.

Yah namanya mundurin mobil gak pake parkir, baru 5 meteran jalan, tiba-tiba “BRUUUUKK”, salah satu ban mobil terperosok ke trotoar alakadarnya yg tingginya lebih rendah daripada jalan raya (hasil pintar benerin jalan dengan cara dicor tapi trotoar gak ikut ditinggiin), supir pun pucat merasa ada yang tidak beres dengan mobilnya, dan kemudian mempersilahkan para penumpang turun, yang ikut dari terminal, dimohon bayar setengah. Ternyata ada salah satu sparepart-nya yang patah, mungkin as rodanya.

Aduh Bang, lagi-lagi, demi beberapa ribu Rupiah, sekarang harus mengeluarkan uang jauh lebih banyak buat betulin mobil dan harus kehilangan beberapa hari uang hasil ngangkot karena mobil harus masuk bengkel kan? Mau untung malah jadi buntung.

Ini lah gara-gara sistem kejar setoran, yang utama itu bagaimana ngumpulin setoran, kenyamanan dan keamanan penumpang nomor buntut, aturan lalu lintas dilanggar, polisi diajak selingkuh, yang penting dapat duit buat dibawa pulang ke rumah.

Sampai kapan yah harus begini? Idealnya kan supir angkutan umum itu digaji oleh pemerintah sehingga mereka berorientasi pada pelayanan penumpang, tidak ada lagi ngetem-ngeteman dan rebutan penumpang antar calo dan sopir. Tapi, kata sebagian orang, takutnya kalau sudah digaji gitu, malah pada bolos gak nganterin penumpang. Karena udah enak makan gaji. Apa orang Indonesia semalas itu yah? Tapi kalau lihat busway bisa tuh para supir yang digaji tanpa harus ngetem-ngeteman kejar setoran.

Sore ini apa lagi yah kejadian dengan supir angkot?

2 Comments »

  1. Ada lagi selain perilaku supir angkot yang seperti itu juga disebabkan kemalasan masyarakat untuk berjalan lebih jauh menuju halte / tempat pemberhentian yang diperbolehkan (tidak ada tanda S dicoret). Kemalasan masyarakat yang ingin begitu keluar jalan raya langsung bisa naik angkot itulah yang membuat supir angkot ngetem di depan gang atau jalan untuk nunggu penumpang. Bukankah demikian?

    Comment by yeherdian — April 28, 2011 @ 10:08 am | Reply

    • Sangat setuju Yehe.
      Jadi ingat beberapa thn lalu di kantor gw yg pertama, ada manajer yang gemuk bangat dikirim ke London 1 bulanan, eh balik Indo dia jadi langsing, alasannya bukan karena gak cocok sama makanannya, tapi karena dia TERPAKSA JALAN KAKI KEMANA-MANA. Gak kaya di Indo, keluar rumah/komplek ada angkot, bus, ojek, becak, bajaj yg siap mengantar kemana saja di sono mau naik taxi mahal bangat, jadi kemana-mana kebanyakan jalan kaki deh.
      Ada juga orang yg menolak naik busway dgn alasan “Malas ah, haltenya jauh, naik tangganya capek” yaelahhhhhhh

      Comment by ayacerita — April 29, 2011 @ 2:43 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: