My Journey, My Story, and My Dream

May 19, 2011

Ratu Adil

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 11:42 am

Pada suatu waktu, di sebuah kerajaan di kaki gunung yang dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana …

Hampir di semua cerita anak yang ada cerita raja-rajanya, pastilah disebutkan salah satu sifat sang raja adalah : ADIL. Sifat adil itu penting, apalagi dalam memerintah sebuah kerajaan, adil dalam memerintah, adil dalam memutuskan hukuman, adil dalam pengenaan pajak, dan adil-adil lainnya.

Negara kita pun demikian, saking pentingnya si ADIL ini, sampai ada di sila ke 5 Pancasila, KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Lihat kan, adil untuk seluruh rakyat, bukan cuma adil pada anggota dewan yang terhormat, adil pada pengusaha yang dekat-dekat penguasa, atau adil pada koruptor saja bukan pada maling ayam.

Saya bukannya mau narsis atau sok jagoan, dari dulu entah kenapa saya merasa saya harus memperlakukan orang lain dgn adil dan sebaliknya, kecewa sekali kalau saya tidak diperlakukan adil. Hal yang paling saya ingat, semasa jaman HP masih barang baru, saya tidak mengijinkan HP saya dimainkan oleh keponakan yg masih kecil, kalau rusak gimana? Begitu pikiran saya waktu itu. Makanya pas main ke Medan dan keponakan Bronsen mau mainin HP saya, saya dgn tegas menolak, walaupun ada iming-iming, HP tidak bakalan rusak, anaknya udah biasa mainin HP, saya tetap tegas tidak mengijinkan. Pikir saya waktu itu, sungguh tidak adil rasanya untuk keponakan saya bilamana saya mengijinkan anak kecil lain memainkan HP saya.

Jaman waktu masih jadi pengasuh sekolah minggu dulu, saya pernah dikirimkan kira-kira 100 buah buku cerita bergambar kehidupan Buddha Gautama. Hari minggu pertama saya bagikan buku, ternyata ada sisa kira-kira 10 buku, minggu depannya saya bawa lagi, eh ternyata anak-anak yang belum dapat buku ada 14 orang. Pikir saya waktu itu, kalau saya bagikan sekarang, akan ada 4 orang anak yg sedih gak kebagian. Jadi lebih baik saya tunda pembagian bukunya sampai saya mendapatkan donasi lagi untuk mendapatkan buku tambahan.

Sekolah di sekolah negeri tidak menjamin murid mendapatkan pelajaran agama yang dianutnya, ini saya alami sendiri begitupun juga dengan anak-anak sekolah minggu saya. Anak-anak sekolah minggu saya yang beragama Buddha mengandalkan pelajaran agama Buddha dari vihara dan kami juga berhak mengadakan ulangan umum agama Buddha dan memberikan hasil ulangan ke sekolah dan nantinya nilai itulah yang akan tertera di raportnya. Prakteknya tidak semudah itu ternyata.

Untuk bisa ulangan agama Buddha, saya mensyaratkan anak didik saya untuk setidaknya masuk 8 kali sebelum ulangan umum (yg waktu itu masih pakai sistem catur wulan), jadi kalaupun nilai ulangan tertulis jelek, masih bisa saya bantu untuk nilai kehadiran dan nilai budi pekerti (yg benar-benar subjektif bangat deh yg ini). Paling pusing kalau ada anak yg jarang ke vihara dan nilai ulangannya jelek, bingung mau ngasih nilai berapa.

Lebih pusing lagi kalau ada orangtua yang tiba-tiba datang ke rumah saya minta nilai buat anaknya yang gak pernah ke vihara. Berkata-kata kasihan anaknya, takut gak naik kelas kalau gak dapat nilai agama (FYI, dulu itu kalau salah satu dari agama, PPKn, dan Bahasa Indonesia nilainya merah, anak itu otomatis tidak naik kelas, gak tahu kalau praktek jaman sekarang yah). Bayangkan deh kondisi saya saat itu, kalau pun tuh anak ulangan saat itu juga di rumah saya, kemungkinan besarnya nilainya jelek. Rasa keadilan saya benar-benar diuji. Rasanya tidak adil sekali saya sama anak-anak yang rajin ke vihara, mereka berusaha untuk mendapatkan nilai, tapi di sisi lain saya pun mempunyai hati nurani untuk tidak memberikan nilai anak yang tiba-tiba datang itu nilai merah, gak tega juga saya.

Di luar itu, saya suka sekali menegur orang yg tidak bisa antri, rasanya tidak adil buat orang yg sudah lebih dulu datang dan harus dilayani lebih dulu. Saya juga seringkali kecewa kalau ada orang yang diberikan amanah untuk membagi-bagikan makanan ke semua orang karena misalkan ada yg ulang tahun, tapi hanya memberikan ke orang-orang tertentu saja, dan sisanya dibawa pulang, rasanya tidak adil buat orang yg tidak kebagian itu.

Terus saya juga paling gak suka sama orang yang merokok sembarangan, rasanya tidak adil si perokok yang mau mati cepat, kenapa harus ajak-ajak orang lain sih?

Susah yah jadi orang adil, apalagi jadi pemimpin yang adil makanya cuma ada di negeri-negeri dongeng, “RAJA YANG ADIL NAN BIJAKSANA.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: