My Journey, My Story, and My Dream

June 1, 2011

Bensin dan Nasionalisme

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 2:12 pm

Sebelumnya bacalah artikel Kompas yg ini

Sebagai orang yg merasa “kalau-mampu-beli-mobil-baru-seharusnya-juga-mampu-beli-bensin-non-subsidi”, jadi selama ini Bronsen memufakatkan saya dan keluarga agar isi mobil dengan bensin Pertamax jangan Premium. Jadi, sebagai bagian dari kegiatan rutin (*bilang aja bensin mau abis kenapa sih?), semalam beli Pertamax oktan 92 yang harganya masih Rp8.900/liter, eh hari ini harganya malah turun jadi Rp8.600/liter.

Tapi, udah turun jadi Rp8.600 gitu masih aja lebih mahal dari Shell. Gimana gak geregetan. Terus ditambah lagi berita Kompas di atas, jadinya pengen bangat beli bensin di Shell aja deh. Pikir saya kalau memang Pertamina tidak efisien, dengan beralihnya orang-orang ke Shell, dia bisa mikir dan harus cari cara agar produksi Pertamax bisa efisien, sehingga tujuan ke depannya kan Pertamina jadi lebih bagus gitu.

Tapi melihat ada poin ke 3, kok yah, rasanya gimana gitu, Indonesia gitu lho, hal seperti itu mungkin bangat terjadi. Nah kalau memang beneran terjadi, masa iya sih saya rela mengeluarkan uang lebih mahal buat kepentingan yang sesat begitu.

Pas saya bilangke  Bronsen, “Beli bensin di Shell aja yah, lebih murah.”

Bronsen dengan tegas menolak karena menurutnya seburuk-buruknya Pertamina masih bisa diperbaiki, kalau semuanya beralih ke produsen asing, yah Pertamina-nya malah makin susah diperbaiki. Nasionalisme sekali yah? Banyak orang yang meragukan, tapi ternyata masih ada orang yang menaruh harapan pada Pertamina (*semoga ada orang Pertamina yang baca blog ini yah).

Tapi kalaupun ada orang-orang karena-nasionalisme-jadi-beli-pertamax, yah embuhlah, tolong gitu, Pertamina tingkatkan pelayanannya. Transaksi kartu kredit jangan kena biaya 3%, fasilitas isi angin gratis tetap dijaga, mesinnya jangan ditinggal sendirian karena kalau menyerahkan pada sistem self service, lebih banyak mesin yg cepet rusak daripada yg terurus. Toilet yang bersih dan gratis.

Terus, apakah ada seperti suami saya, yang beli Pertamax yang jelas-jelas lebih mahal daripada pesaingnya lebih karena rasa nasionalisme?

Upsss hari ini hari lahirnya Pancasila yah, semoga kita semakin berjiwa nasionalis yah.

9 Comments »

  1. Kemaren abis dibahas nih di twitter yen ttg pertamina vs yg lain2, banyak yg belain shell soalnya katanya dia punya program untuk mempekerjakan wanita n org2 cacat gt.. g jg ga pernah merhatiin deh.. coba confirm aja ama yg kerja di shell hehe..🙂

    trus ada yg komen, buat apa kita ngebela2in pertamina, ujung2nya dikorup jg duitnya.. :p mending ke company yg jelas2 ada program buat rakyatnya..

    Comment by Annz.. — June 1, 2011 @ 8:21 pm | Reply

    • nanti coba kita tanya ke Christine deh .. ^^

      elo sendiri isi Pertamina apa Shell?

      Comment by ayacerita — June 6, 2011 @ 9:39 am | Reply

  2. Gw selalu termasuk orang yang ga setuju dengan kalimat pemerintah yang menyatakan premium hanya untuk orang yang tidak mampu… Ini semua semata-mata karena pemerintah malas berpikir dan inginnya selalu ada peroyek… Klu pembatasan dilakukan, maka ada proyek uji coba mekanisme pembatasan dengan sosialisasi, sistem kuota barcode, dll.
    Gw sering bilang setiap ada kesempatan membahas masalah bbm ini, bahwa solusi terbaik jika pemerintah menyatakan jangan sampai subsidi dinikmati oleh orang2 kaya yang tidak berhak yah pemerintah membuat regulasi yang mengatur produsen mobil untuk memproduksi mobil yang harga jual tinggi (contoh > 300 juta) memiliki tangki bahan bakar yang lubangnya sistem soket atau apapun desainnya yang tidak memungkinkan diisi dengan nozzle yang ada saat ini. Untuk pom bensin hanya pertamax dan pertamax plus yang memiliki selang pasangan soket tsb. Dengan demikian subsidi yang dikatakan tidak dinikmati oleh mobil mahal kan? Jika didapati mobil mahal merubah tangki bensinnya, sesuai regulasi yang telah ada maka modifikasi tersebut menjadi tindak pidana. Bukankah lebih mudah memaksa perusahaan otomotif mengikuti aturan daripada memaksa masyarakatnya untuk mengikuti aturan? (Masalahnya setelah regulasi jadi, ga bisa dijadikan proyek ini dan itu)…….

    Comment by yeherdian — June 2, 2011 @ 3:56 pm | Reply

    • Susah kali He memaksa perusahaan otomotif. Lah wacana pembatasan sepeda motor aja selalu mentok, gitu juga wacana mobil > 2005 harus isi Pertamax, produsen otomotif pada takut kehilangan pasar, dan, katanya, deket-deketin pemerintah deh, akhirnya gak jadi-jadi deh tuh peraturan, tetap wacana aja. Ini katanya lho, katanya …
      Itu yg soal soket itu, gw baru denger tuh, bagus juga, biar orang kaya bisa naikin tensi malunya dikit tuh kalao gak bisa isi premium tapi masih maksa, tapi akhirnya ide-ide bagus seperti ini hanya tetap ide yah. Pertamina dan pemerintah mau gak yah mewujudkannya?

      Comment by ayacerita — June 6, 2011 @ 9:43 am | Reply

  3. Aya,tunjuk jari,saya juga masih punya optimisme yg sama buat pertaminah dengan berbagai alasan. Misalnya,krn smpt ada bbrp kerjaan yg intinya kita nunggu pertamina bayar. Masih diutangin kerjaannya. Jadinya kita sekeluarga milih ke pertamina aja ah. Sampai suatu saat kita liat acara di tipi sejenis “gebyar pertamina” pake ngundang artis2 kondang. *lap keringet* dipikir gada uang buat bayar kerjaan, malah party2 *oaalaah*
    Padahal mah kalau tempatnya jauh dan gak searah dibela2in cari bensin negri ini dibanding harus ngisi bensin diladang orang.

    Ini kaya punya pacar yang sama orang keliatan jeleknya mulu, ampe ga bosen orang2 nyuruh kita putus dan pacaran sama si Shell atau si Petro atau bahkan Si Total yg ganteng2, tapi dalam hati kita percaya,”dia akan berubah ke arah yang lebih baik”. Amiin *komat-kamit berdoa panjang*

    Comment by jade — June 3, 2011 @ 7:41 am | Reply

    • Yah semakin berharap, ada orang Pertamina yg sadar dan berbuat sesuatu demi negeri ini dan demi orang-orang seperti Jade dkk.

      Comment by ayacerita — June 3, 2011 @ 12:03 pm | Reply

  4. Pertamina bolak-balik bilang mengalami kerugian karena subsidi, tapi coba lihat gaji presdir dan direktur hingga manajernya… Apa menggambarkan perusahaan yang mengalami kerugian? Coba perusahaan swasta klu mengalami kerugian seperti apa tindakan yang diambil?

    Comment by yeherdian — June 3, 2011 @ 11:42 pm | Reply

    • Saya ngacung jariiiiiii, jadi contoh teladan kerja di perusahaan yang rugi terus dan susyaahhh naik gaji.
      Kalo di Pertamina mah beda, mau rugi, tetap aja banyak orang yg antri berharap bisa kerja di Pertamina, kenapa coba tuh?

      Comment by ayacerita — June 6, 2011 @ 9:45 am | Reply

  5. Rata rata konsumsi bensin 100L/bulan untuk kegiatan rutin termasuk kalo Aya pulang ke Bekasi tiap 2 minggu sekali, ini itungannya isi 1 minggu sekali, sekali isi 20 – 25L. Katakan lagi sering seringnya pake mobil, 1 minggu isi 2 kali 20 – 25 L, maka pemakaian max 200L/bulan. Kalau selisih harga bensinnya Rp 150 / L (8600 – 8450), maka sebulan, dengan alasan nasionalisme, saya lebih boros 150 * 200 = Rp 30000. Untuk senilai ini, masih bisalah berkorban buat negara ini.

    Belum tahu batasan bertahannya, mungkin ntar kali kalo ternyata bedanya ampe Rp 5000/L, pemakaian bensin 1000 L/bulan (karena punya 3 mobil powernya gede, 1 buat saya, 1 buat Aya, 1 buat Viriya), kan pemborosannya jadi Rp 5000 000/bulan, boleh dah kita berpindah, selain karena borosnya gede juga kalo bedanya ampe Rp 5000 per liter, perusahaan ntu mendingan di beli asing sekalian dah! biar bobroknya nular ke asing atau dibagusin sekalian.

    PS : soal boros di pargraph 2, seharusnya irelevan ya… soalnya kalo sanggup punya 3 mobil yang powernya gede, keknya Rp 5000 000 bakal dianggap kecil deh hu hu hu. Kapan ya?

    Comment by Bronsen — June 11, 2011 @ 8:06 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: