My Journey, My Story, and My Dream

June 18, 2011

Please find attached

Filed under: Cuma mikir,Curhat emak-emak — ayacerita @ 10:02 am

Dear all,

Please find attached minutes of meeting with Mr. Adisasana, today at 9 a.m

Best regards,

Hilman

Sering gak nulis email kaya gitu? Yah bisa aja sih MOMnya diganti sama laporan harian, perhitungan, budget, dan banyak file lainnya. Dan kita lancar-lancar saja yah nulisnya. Padahal kalau nulis di Bahasa Indonesia-in, kira-kira begini.

Dengan hormat,

Dengan ini, saya lampirkan notulen rapat dengan Bapak Adisasana, hari ini jam 9 pagi.

Hormat saya,

Hilman

Gak tahu kenapa, sekarang yang namanya business email atau email bisnis seringkali pakai bahasa Inggris, padahal pengirim dan penerim email semuanya orang Indonesia, yang pastinya, bisa berbahasa Indonesia. Apakah memang aturannya begitu yah? Kalau memang salah satu pengirim atau penerima email orang asing sih yah gak kenapa-napa pakai Bahasa Inggris, lah kalau sudah jelas semuanya orang Indonesia, kenapa juga mesti repot nulis email pakai Bahasa Inggris?

Kalau memang tujuannya untuk melatih Bahasa Inggris, yah mungkin bisa diterima yah, tapi jangan sampai karena kebiasaan pakai bahasa Inggris, giliran nulis surat/email resmi dalam bahasa Indonesia malah bingung.

Contohnya untuk kata FOR WHOM MAY IT CONCERN, pada bingung mau diterjemahin apa kan?

Terusnya waktu lihat iklan perumahan gede, Dibuka cluster baru, DE CAJUPUTI. Yaelah ribet bener yah, bilang aja kluster kayuputih kenapa sih? Atau gak keren kali yah kalau pake bahasa Indonesia.

Nah yang lebih pusing nih melihat fenomena sekolah terutama PAUD alias playgroup dan TK. Iklan sekolahnya tuh begini:

Pengantar Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin

Bingung gak sih? Bahasa Indonesia-nya dikemanain yah kalau gitu? Beneran deh saya bingung sama sekolah sekarang yang lebih mengedepankan penggunaan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia-nya kadang cuma diajari yah pas jam pelajaran Bahasa Indonesia, ya ampun, lah memang sehari-hari tuh kita pakai bahasa apa sih?

Yang saya bingung, kenapa orang tua sekarang tuh pengen bangat anaknya bisa bahasa Inggris dari kecil bangat yah? Biar bisa bersaing di masa depannya? Biar gampang cari kerja udah gedenya? Biar bisa jadi manusia global?

Padahal saya percaya deh kita-kita yang baru belajar Bahasa Inggris pas SMP aja, sekarang bisa survive (selamat kan arti Bahasa Indonesia-nya?) kok. Cukup dengan les Inggris di LIA atau lembaga kursus lain, masih pada bisa ngikutin tuh pas kuliah yang harus pakai buku teks tebal-tebal dan berbahasa Inggris. Pas masuk dunia kerja juga, ada bule di kantor, tenang-tenang aja kan? Asal bisa ngobrol nyambung dikit, sudah tidak masalah besar. Pas nonton DVD bajakan yang gak ada subtitel Bahasa Indonesia-nya, masih ngerti kok jalan ceritanya walaupun pake subtitel Bahasa Inggris.

Yah kecuali kalau sudah berniat anaknya pas SD disekolahin di Singapura, SMP di Inggris, dan SMA di Amerika sih? Yah itu sih apa boleh buat.

Tapi beneran deh saya sedih bangat kalau Bahasa Indonesia tuh jadi bahasa nomor 2 di negeri sendiri. Sudah gitu di sekolah juga cuma jadi mata pelajaran saja tapi tidak digunakan sebagai bahasa pengantar. Misalkan yah memang di keluarga itu dibiasakan ngomong bahasa Inggris (wah, saya sering bangat nih ketemu keluarga yang anak-anaknya jagoan bangat ngomong bahasa Inggris. Daddy, I want to buy that book. Mommy, lets eat in Burger King. Daddy, why Mommy is so late? Kevin, eat first, after that you can play there. en cas cis cus lainnya, sumpah lancar bener, berasa di bukan di bumi pertiwi), dan sampai lupa bagaimana cara ngomong Bahasa Indonesia, gimana caranya tuh anak beli bakso atau mie ayam yah?

Hi,  I want to order a bowl of noodle, don’t put any chilli. Tukang mie ayamnya mudeng gak yah?

Atau kalau gak tuh anak udah gede dan cuma bisa bahasa Inggris, terus markirin mobilnya, dan abang parkir dengan senang hati mulai teriak-teriak.

“Maju gan, kanan, kanan, balas, kiri dikit, dikit lagi, maju, balas, mundur, balas gan.”

Apa harus ada orang di sebelah tuh anak buat translate yah? Kalau gak kan, bisa nabrak.

Hmm ok sih, kalau memang ada yg berargumen, justru kalau anak gw dari awal sekolah udah diajarin bahasa Inggris, udah gedenya masa depannya baik, kerja di tempat yang bagus, gak perlu beli mie ayam di tukang mie (minimal di mall belinya), atau gak perlu parkir, kan ada vallet, atau pakai supir sekalian dong.

Hmm gitu yah, yah udah deh, kalau udah yakin tuh anak bakalan di atas terus, yah mau bilang apa lagi yah?

Tapi, kalau Bronsen bisa nasionalisme dalam hal beli bensin (eh udah Rp8.400 pertamax yah skrg?), saya juga bisa menunjukan kecintaan dan nasionalisme saya dalam hal Bahasa Indonesia. Jadi saya mungkin termasuk salah satu orang tua yang akan sibuk dan rewel saat mencari sekolah untuk Viriya, dan pastinya menolak sekolah yang bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia. Tolong deh, Bahasa Indonesia itu yah bahasa kita, kalau bukan kita yang menggunakan dan mencintainya, siapa lagi coba?

2 Comments »

  1. Klu kali ini gw sih ga sepenuhnya setuju… Dari yang terlihat pada anaknya cici gw. Dari masih bayi, diajak ngomong mandarin en hokkian, ternyata bisa sendiri berkata2 dalam bahasa indonesia… Kosa kata bahasa indonesia lebih mudah diserap oleh anak-anak karena dalam lingkungannya tetap bertemu dengan bahasa indonesia, terutama kan iklan makanan anak2 juga dalam bahasa indonesia… Yang sering gue perhatikan sih selama bekerja banyak sekretaris perusahaan yang menulis surat berbahasa indonesia (gak bisa bahasa asing) malah sering salah dalam menggunakan prefiks di-, ke-, yang sering kali dipisah saat dirangkai kata kerja dan disambung saat dirangkai dengan kata benda. Juga masalah konfiks ke-an, pe-an, dll yang sering kali dipisah walaupun yang benar adalah dirangkaikan seperti kesetiakawanan ditulis kesetia kawanan, pertanggungjawaban ditulis pertanggung jawaban… Seing juga salah dalam memilih sufiks -kan, -i, dll seperti ibu menidurkan bayinya ditulis dengan ibu meniduri bayinya (Bayinya ditimpa?) Jadi, walaupun bahasa indonesia telah dipelajari, seringkali justru tidak terpakai dengan baik. Buat gw nasionalisme bukan berarti sepenuhnya harus berbau dalam negeri, nasionalisme lebih bermakna jika ditunjukkan dalam sikap dan perilaku kepada dunia luar dengan menjaga wibawa bangsa… Contoh, bukan rahasia lagi bahwa produk berkualitas terbaik buatan dalam negeri dijual ke luar negeri, dikasih merk, kemudian dijual lagi ke pasar Indonesia, sementara produk kualitas kurang baik buatan dalam negeri langsung dilepas di pasar Indonesia. Contoh : Sepatu, pakaian, termasuk BBM (Pertamina). (Sikap dan perilaku untuk mengutamakan bangsa itu lebih baik) Pertamina lebih memilih untuk menjual blok2 migas ke perusahaan luar negeri karena harga minyak dunia yang tinggi dibandingkan untuk kebutuhan dalam negeri. Seingatku Kwik Kian Gie dan pengamat minyak Kurtubi pernah buka2an bahwa biaya produksi BBM final tidaklah besar anggap aja di kisaran Rp.3.500/liter (asumsi, lupa angkanya yang pasti lebih murah dari harga jual). Namun karena pasar luar negeri mempunyai harga jual di kisaran Rp. 8.000/liter (asumsi juga) maka pertamina melepas ke dalam negeri dengan nilai Rp.4.500/liter dengan kata2 subsidi sebesar Rp.3.500/liter (8.000 – 4.500 = 3.500), dan memilih sebagian diekspor untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi tersebut. (Bukankah pasal 33 UUD jelas menyatakan bahwa sumber daya alam dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebutuhan rakyat)….

    Comment by Yeherdian — June 20, 2011 @ 8:33 am | Reply

    • Yehe …yuhuuuu
      Keberatan gw lebih pada knp bahasa Indonesia sulit sekali menjadi bahasa pertama bahkan di tanah air sendiri, terutama di sekolah-sekolah.
      Untuk kasus keponakanmu, untunglah anaknya bisa yah semua bahasa itu, soalnya banyak sekali orang tua yg curhat (di milis ortu) kalau anaknya sampai umur3-4 thn gak bisa ngomong yg jelas, akhirnya dibawa ke klinik tumbuh kembang, dan setelah diteliti, anaknya mengalami kebingungan karena orang-orang di sekelilingnya memakai bahasa yg berbeda, akhirnya si anak malah menciptakan bahasanya sendiri.
      Percaya sih, umur 2-7th itu katanya masa-masa keemasan, tapi sekali lagi, gw percaya anak itu beda-beda, bisa pada 1 anak, blm tentu bisa pada anak lainnya, gak tahu deh si Viriya, dari sekarang Amah-nya udah sering ngomong 4 bahasa sekaligus😦

      Soal Pasal 33 UUD, tidak bisa lebih setuju lagi. Kapan yah masanya orang Pertamina kita mau menyadarinya? (karena gw yakin mereka udah sadar, skrg tinggal “mau”nya aja).

      Comment by ayacerita — June 21, 2011 @ 12:04 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: