My Journey, My Story, and My Dream

July 13, 2011

Panggilan

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 1:25 pm

Sebagai orang Indonesia, pasti dibilang “songong, gak sopan, gak pernah diajar” kalau ada anak kecil manggil orang yang lebih tua langsung dengan namanya saja, tanpa ada embel-embel seperti Om, Tante, Ibu, Bapak, Mas, Mbak, Kakak. Gak seperti anak bule sono yg dgn wajarnya manggil orang yg lebih gede langsung panggil namanya.

Nah, sebagai orang keturunan Tionghoa, patuh 100% pada kebiasaaan di atas, saking patuhnya banyak bangat sebutan untuk keluarga dari mamah dan papah. Kalau orang Jawa mungkin cuma ada bule-pakle, orang Betawi ada encang-encing, kalau orang Cina harus lihat silsilahnya dulu.

Jadi gini (kok jadi kaya mau kuliah gini yah?), misalkan mau panggil bibi alias saudara perempuan dari mamah, itu panggilannya Aih, bisa juga Iih. Nah kalau misalkan mamah punya 3 cici, sebagai keponakan kita panggil secara berurutan Tuaih, Jiih, Saih, yang artinya bibi dari pihak mamah yg pertama, ke dua, dan ke tiga. Nah gimana dgn paman alias saudara laki-laki? Dipanggilnya dengan akhiran “kuh” bisa ngkuh atau akuh, nah kalau ada 3 berturut-turut lagi-lagi kita manggilnya sebagai Tuakuh, Jikuh, Sakuh.

Kalau dari pihak papah, kebetulan Papah saya punya 4 koko, yang dipanggil dengan akhiran “pe”, jadi tuape, jipe, sape, dan sipe. Nah, untuk adik laki-laki papah, panggilnya agak beda yaitu dipanggil “encek”, gak tahu kenapa beda, tapi mungkin di dialek-dialek lain beda lagi.  Saudara perempuannya dipanggil dgn akhiran “koh” (ada juga dialek yg berakhiran dgn “kuh”), karena ada 2 orang saya panggil sebagai “tuakoh dan jikoh”, kalau ada 3, yah tinggal tambahin sakoh deh.

Nah gimana panggilan untuk pasangan mereka?

Suami Iih/Aih dipanggil Itio/Atio.

Istri Ngkuh/Akuh dipanggil Ngkim/Akim.

Suami Akoh panggilnya Atio sih seinget saya (kok saya lupa yah saya manggil apa sama suami Jikoh hehe).

Istri Ape, Jipe, dipanggil Aem, Jiem, akhirannya “em”, nah kalo istrinya encek/acek, dipanggilnya “encim/acim”.

Suami cici dipanggil “cihu”, istri koko dipanggil “ensoh/sosoh”.

Biasanya ini berlaku juga untuk saudara-saudara lain, pokoknya lihat aja umur atau posisi mereka di dalam keluarga, untuk teman-teman juga gitu. Jadi Viriya saya biasain panggil Iih untuk teman2 cewek saya yang Cina, kalau yg non Cina, yah dipanggil Tante aja.

Sudah pusing? belumlah.

Nah sekarang Viriya lahir, berarti harus diajarin manggil orang-orang yg lebih tua sesuai dengan silsilahnya, gampangnya tinggal ditambahin akhiran “kong” untuk laki-laki dan “poh” untuk perempuan. Jadi kalau saya panggil “engkuh”, Viriya tinggal panggil “Kuhkong”, kalau saya panggil “Aih”, Viriya tinggal nambahin jadi “Ipoh”. Cekong, cimpoh, kimpoh, dan seterusnya. Gampang kan?

Nah masalah muncul saat anak berumur 14 tahun harus dipanggil “Kukong” oleh Viriya dan dia keberatan, hahaha, ya iyalah masa masih kecil gitu udah dipanggil kukong, which is, setara dengan kakek atau grandpa.

Ceritanya nih, anak itu, sebut aja D, adalah sepupu mamah saya, tapi karena usianya lebih kecil dari saya, jadi lah D diajarin orangtuanya manggil saya Cici, kebetulan saya juga pengasuh sekolah minggu, kloplah kesalahan itu, terus-terusan manggil cici. Harusnya kan saya manggil D itu “engkuh” karena secara silsilah dia sejajar dengan mamah saya, saya satu derajat lebih rendah dari D (kalimatnya jadi model skripsi gini lama-lama), tapi karena dia udah kadung kebiasaan manggil saya “cici” yah jadi susah dibetulin. Terus Viriya lahir, gak mungkin juga dia saya ajarin panggil “koko”, lah D ini 2 derajat lebih tinggi daripada Viriya. Dan yang benar itu berarti Viriya harus panggil “kukong” ke D dong? haha, selalu ketawa geli deh kalau ingat kejadian ini.

Terusnya lagi, perkawinan mamah dan papah saya itu ternyata juga mengacaukan silsilah keluarga, hehe. Kok bisa? Bisa, karena mamah dan papah saya nikah karena dijodohin, tapi ngejodohinnya itu lho, dekat bangat. Akibat yang paling bisa kelihatan adalah saya panggil “kukong” untuk adik laki-laki nenek saya (si memeh) tapi istrinya saya panggil “sakoh” bukan “kimpoh”, kok bisa (lagi?). Bisa, karena keponakan kukong (alias mamah saya) dijodohin sama adik sepupu sakoh (alias papah saya), pusing gak bacanya?

Nah, anak-anak kukong, misal anak ceweknya, harusnya saya panggil apa? Iih atau cici?

Kalau ikut garis papah, saya harusnya panggil cici, sebaliknya kalau ikut garis mamah, saya bisa panggil dengan iih. Prakteknya, saya panggil Iih, anak Iih panggil saya cici, nah kemudian si Viriya diajarin manggil koko ke anak-anak Iih ini, haha makin pusing kan? harusnya dipanggil ngkuh/iih, tapi karena umur mereka tuh masih kecil-kecil, di bawah 10tahun, mereka ogah dipanggil ngkuh/iih, maunya dipanggil koko/cici aja.

Yah begitulah sekelumit kisah orang Tionghoa di sini. Saya sih dengan senang hati akan membiasakan Viriya untuk memanggil orang yg lebih tua sesuai dgn posisinya. Sekalian meluruskan jika ada yg salah panggil selama ini.

* Mungkin ada tulisan yg salah atau pelafalan yg berbeda, mohon maklum.

2 Comments »

  1. Nah kalau pasangan ipoh apa panggilannya ?

    Comment by suzanna — November 22, 2014 @ 9:02 am | Reply

    • Itio-kong (kalau salah nulisnya, maaf yah)

      Comment by ayacerita — January 17, 2015 @ 10:51 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: