My Journey, My Story, and My Dream

August 8, 2011

Maaf, gak sengaja!

Filed under: Cuma mikir,Curhat emak-emak — ayacerita @ 2:22 pm

Siapapun, terutama orang-orang seperti saya yang suka sekali naik angkot, kopaja, krl, busway, dan sejenisnya; pastilah pernah menginjak kaki orang lain, atau pernah juga kakinya diinjak. Dan pasti tahulah rasanya kalau kaki keinjak, kalau cuma keinjak sama anak kecil atau cewek dengan sepatu flat biasa, rasanya tidak sesakit kalau diinjak sepatu hak tebal wanita atau paling parah sepatu bootnya satgas busway atau sepatu anggota TNI, duh mantap sakit rasanya.

Nah, apa reaksi kita kalau kaki kita keinjak? Refleks, paling bilang atau teriak kalau benar-benar kesakitan, “Aduh!” atau kalau gak sakit, paling menunjukan tampang gusar saja.

Kalau kita yang nginjak, refleks bilang, “Maaf, gak sengaja.” plus minus tampang benar-benar minta maaf.

Beberapa hari lalu kaki saya keinjak mbak-mbak di angkot, dan sumpah, sakit bangat, pertama karena sepatu si mbak yang pantovel, berat badan si mbak yg juga sepertinya tidak ringan (menambah daya injakan), plus waktu itu dia sedang dalam posisi menjejakkan kakinya gara2 angkot udah jalan aja padahal dia belum duduk. Ya ampun, sakit bangat, refleks saya teriak, “Aduh!” dan menunjukkan wajah benar-benar kesakitan.

Refleks juga si embak bilang, “Maaf, mbak!”

Tapi karena saya masih merasaka sakit, saya masih bilang, “aduh” sambil merintih kesakitan. Dan tebak apa yg dibilang si mbak.

“Saya kan udah bilang maaf mbak, kan gak sengaja!” Dengan nada ketus tanpa empati sekalipun.

Dan akhirnya saya hanya bisa bilang, “Saya tahu Mbak, tapi apa gak boleh kalau saya kesakitan?”

Jujur sebenarnya saya menerima maafnya, siapapun tahu dia gak sengaja dan gak ada maksud kaki pengen menginjak kaki saya, tapi bukan berarti saya sama sekali gak boleh merintih kesakitan kan? Atau apakah dengan kata maaf, langsung saja, blass, sakit di kaki saya langsung hilang gitu? Apakah saya gak boleh punya hak menunjukan tampang bahwa kaki saya benar-benar sakit pas diinjak?

Orang bilang, “Maaf bukan berarti urusan selesai.”

Benar juga kali yah kalau dipikir-pikir. Maaf harusnya diiringi dengan perasaan empati. Gimana rasanya kalau kaki kita yg keinjak. Gak usah marah kalau orang yg kakinya keinjak masih bertampang kesakitan atau sebel, yah namanya juga sakit. Masa iyah habis kaki keinjak, terus langsung ketawa-tawa terus langsung ngajakin kenalan? (pengecualian kalau emang lagi pedekate deh).

Maaf yg seharusnya kata yg indah akhirnya hanya jadi kata-kata pamungkas menutupi kesalahan tanpa tanggung jawab dan empati. Bener gitu?

Jadi ingat ada yang pernah rame wacanain koruptor diberi maaf saja dan diminta memulangkan hasil korupsinya? Lah, tanggung jawabnya dimana? Empati terhadap orang-orang yg dirugikan karena dia korupsi gimana? Cukup gitu hanya dgn kata maaf? Hah, jadi melebar gak jelas. Maaf yah ….

 

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: