My Journey, My Story, and My Dream

March 1, 2012

Interview, apakah harus santai?

Filed under: Cuma mikir — ayacerita @ 1:51 pm

Syukurlah, sesudah banyak melewati sesi interview aneh-aneh yg sampai disemprot baygon segala, sekarang saya ada di posisi yang harus meng-interview calon kandidat. Dan ternyata lebih seru menginterview yah daripada diinterview.

Dulu, jaman masih kuliah gitu (hmm, berapa tahun lalukah itu?), pas di semester-semester akhir, ada beberapa sesi seminar yang isinya antara lain mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja, salah satunya adalah cara berpakaian dan sikap saat diinterview. Ada satu sesi yang diisi oleh salah satu pembicara yang berasal dari sekolah kepribadian terkenal di Jakarta.

Yang masih saya ingat saat itu adalah kalau perempuan sebaiknya pakai baju yang rapi, kalau bisa pakai blazer, kalau pakai rok jangan pendek-pendek, warna-warna netral seperti putih, coklat, biru, hitam; pakai sepatu tertutup biar lebih kelihatan resmi, tapi jangan pakai hak tinggi-tinggi, nanti disangka interview calon peragawati, berdandan tipis-tipis, gak usah menor kaya penyanyi 17an. Kalau pria sebaiknya pakai kemeja tangan panjang, jangan tangan pendek karena kalau kemeja tangan pendek kesannya non formal, kalau bisa pakai dasi tapi disesuaikan dengan perusahaan yang mau dilamar, kalau industri kreatif kan jarang bangat pakai dasi tuh karyawannya. Pakai kemeja warna netral, jangan yang mencolok mata seperti warna kuning atau merah. Celana warna gelap, hitam misalnya.

Terus masalah tas, kalau cewek jangan bawa tas kekecilan kaya mau kondangan atau tas kegedean kaya mau kondangan terus ngumpetin pisang. Kalau cowok, sebaiknya jangan bawa tas ransel karena menimbulkan image masih mahasiswa, yg gak siap masuk dunia kerja, dan ini langsung dibantah sama Bronsen yang sampai sekarang kalau kerja pasti bawanya ransel. Terus kalo diinterview tasnya taro dimana? Dibilangin sih sebaiknya ditaruh di lantai, atau taruh di samping kita kalau memang kursinya masih muat, jangan dipangku karena menandakan siap-siap pergi hehe.

Nah terus diajari cara jalan, cara berdiri, cara berjabat tangan dengan si peng-interview, yang saya ingat lagi, kalau si peng-interview baru masuk ruangan, kita harus segera berdiri dan berjabat tangan. Saya sih setuju saja, soalnya ini juga adat ketimuran yg pasti udah kita tahu dari dulu, gak mungkin dong, elo lagi kawin diajak salaman sama tamu, elonya duduk aja.

Sedikitnya, himbauan ini masih saya pegang sampai saat ini, kecuali masalah blazer di atas. Ok, pas baru lulus, berbondong-bondonglah teman-teman perempuan mahasiswi beli blazer bagus-bagus buat interview doang, saya pun juga, tapi belinya di mangga dua aja hehe. Gak rela gitu liat sepotong blazer harganya Rp 200ribu, kerja belum, modalnya gede bangat yah. Karena di proses interview berikutnya, andalan saya hanya kemeja rapi plus celana warna gelap dan sepatu, udah itu aja, sebodo teuing sama blazer deh hehe. Apalagi di kantor saya sekarang yang industri kreatif, waktu interview pakai kemeja tangan panjang saja saya udah merasa saltum, apalagi waktu itu pake blazer yah?

Nah dari dasar-dasar ini dan adat-adat ketimuran yang saya pakai, saya pernah menolak seorang kandidat hanya dari 1 menit pertemuan pertama saja. Ceritanya gini, ini kandidat di psikotes dulu sama HR, baru setelah hasil psikotes keluar dan saya baca sekilas, saya memutuskan menemui dia. Kandidat menunggu di ruang meeting, pas saya menemuinya, dia sedang duduk bersender sambil menyilangkan kaki, saya masuk ruangan, dia tetap duduk dalam posisi seperti itu, sambil saya menjulurkan tangan untuk berjabat tangan, dia tidak bangun dari duduknya, hanya menyambut tangan saya.

Saat itu langsung ilfil deh, ini saya yang butuh, apa siapa sebenarnya? Jadi waktu itu melanjutkan interview hanya untuk formalitas karena di kepala saya sudah ada keputusan “REJECT”, sebodo teuing deh kalo misalkan dia anak pinter ber IQ tinggi, fast learner, smart, whatever you say, tapi kalau attitudenya begitu, kaga gw terima deh.

Ok deh interview gak perlu tegang, santai saja, tapi santai bukan berarti gak punya attitude dan tidak mengerti tata krama dong. Hargai orang yang meluangkan waktu untuk interview dengan kita dengan bersikap sopan, kan gak sampe diminta membungkukan badan kaya orang Jepang kasih salam gitu.

Yuhuuu, beneran deh, ternyata sesi-sesi interview yang saya lewati saat ini bener-bener menantang. Setiap kali saya harus menginterview kandidat, pasti bertanya-tanya, “yang seperti apa yah sekarang?” hehe.

Selamat mengikuti interview.

 

 

2 Comments »

  1. Bagus banget mba postingannya🙂 saya baru lulus dan mau cari kerja, nemu blog ini bikin saya semangat kalo besok udah menghadapi interview..

    Comment by daniel — August 15, 2013 @ 9:14 am | Reply

    • Selamat berburu Daniel … semoga dapat pekerjaan yang dicita-citakan yah.

      Comment by ayacerita — September 3, 2013 @ 4:53 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: