My Journey, My Story, and My Dream

February 5, 2013

Buku dan Jam Tangan

Filed under: Curhat emak-emak,Simple n ringan aja — ayacerita @ 4:41 pm

Kumpulan buku dan komik yang Bronsen dan saya miliki seperti cerita saya di postingan sebelumnya sekarang sudah jadi bubur kertas. Yah gara-gara banjir besar di pertengahan Januari kemarin, ratusan buku dan komik yang kami miliki harus berakhir di tempat sampah berikut rak bukunya yang juga ikut hancur.

Sedihnya pas Viriya juga ikut-ikutan cari buku-bukunya yang biasa saya bacain, seperti Robin Hood, Tarzzan, Winnie The Pooh, kumpulan dongeng klasik Disney. Sialnya, bukan cuma masalah kehilangnan bukunya itu yang menohok, proses mendapatkan buku-buku Viriya juga sangat sentimentil. Buku-buku impor bergambar dan berwarna nan murah itu saya dapatkan di Book Fair yang saya datangi pas saat saya hamil trimester ke dua. Bayangkan seorang diri pulang kantor, saya dgn perut melendung, naik taksi ke JCC demi menuntaskan keinginan beli buku. Di JCC ternyata banyak sekali pengunjung yang juga mencari koleksi bukunya dan setelah lelah berkeliling dan berdesakan dengan perut melendung, saya tiba di suatu stand yg isinya buku anak-anak semua, hardcover dan full colour. Di setiap buku ada stiker warna yang menunjukan harga buku itu, ada warna merah, biru, kuning, dsb. Walaupun buku bekas, tapi kondisinya masih 95% bagus, di antara beberapa buku yang saya beli, hanya ada 1 buku yang 1 lembar halamannya sobek. Tentu saja saya beli tanpa pikir panjang.

Pas sudah bayar dan dikasih plastik berisi buku-buku yang saya beli ke tangan saya, saya baru sadar, “Lah, nih buku berat bangat yah?” Waktu beli kalap cuma milih, tunjuk, bayar, pas udah dipegang dan dikumpulkan ternyata mereka berat Saudara-saudara. Akhirnya yg terjadi kemudian adalah saya mencoba memeluk buku-buku tersebut dengan ke dua tangan di atas perut, berjalan mencari pojokan yang ada bangkunya, duduk di sana dan menelepon Bronsen, tanya sekarang dia ada di mana karena saya siap dijemput saat itu, gak sanggup lagi keliling cari buku lainnya.

Waktu dijemput pun ternyata kondisi Senayan saat itu sangat padat merayap susah bergerak, Bronsen yang sudah di depan Istora gak sampai-sampai ke depan JCC. Akhirnya dia memilih memutar balik jalan yg lebih sepi dan saya pun mengiyakan saja pas dia minta jalan ke depan. Ternyata, Bronsen muter baliknya masih jauh dari JCC sehingga saya harus jalan kaki lagi hampir sampai ke istora sambil meluk buku-buku Viriya (yg saat itu masih dalam perut) yang berat itu.

Piuuhh akhirnya sampai juga ketemu Bronsen, dan Bronsen cuma langsung mengambil buku-buku dari tangan saya karena saya sudah teriak, “Berat!” sambil bilang, “Anaknya masih dalam perut, bukunya sudah banyak benar.” Hohoho bahagia sekali saya saat itu, sama bahagianya saat tiba waktunya membacakan buku-buku tersebut saat Viriya masih dalam perut dan sudah lahir. Sampai Viriya hapal tokoh-tokoh dalam bukunya, walaupun beberapa lembar buku harus jadi korban tarikan dan jambakannya.

Semoga Book Fair segera datang dan menyediakan buku-buku yang persis sama.

Lain lagi cerita soal Kungfu Boy. Saya dan Bronsen niat bangat koleksi Kungfu Boy Premium no 1-18. Itu sebenarnya cerita lama yang dikemas ulang, tetapi pas saatnya lengkap, eyalah kok jadi bubur kertas aja gitu berakhirnya?

Terus ada lagi Kungfu Boy Legend. Bronsen cuma beli beberapa nomor karena telat koleksi, saya pun niat untuk melengkapi koleksi tersebut dgn pesan online di FB, eh belum sempet confirm, banjir datang dan membawa semua serinya, kecuali nomor 12 yang masih sempat saya masukin ke tas waktu saya mengungsi. Batal deh pesanan komiknya, maaf yah Gubuk Buku.

Di antara penyesalan di mana semua buku itu pergi, saya malah menemukan jam tangan saya yg saya kira hanyut dibawa banjir. Jam tangan bagi saya itu kebutuhan, kalau pergi kemana-mana yah harus pakai jam tangan, dan saya adalah tipe orang yang hanya punya 1 jam tangan. Entah kenapa saya tidak biasa gonta-ganti jam tangan kalau pergi ke acara yang berbeda. Mau pergi ke kantor, belanja ke hypermarket, ke toko buku, termasuk ke pesta, pokoknya kemana-mana yang keluar rumah yah saya pakai jam tangan yang itu-itu saja.

Jam tangan terakhir yang saya pakai itu adalah kado ulang tahun dari Bronsen tahun 2009. Dibeli di Paser Baroe. Enak dan nyaman dipakai, walaupun setelah 2 tahun kok ada goretan-goretan gitu di kacanya. Saya pikir awalnya dicoret-coret Viriya pakai pensil/pulpen, setelah diperhatikan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya ternyata itu adalah angkanya pada copot! Angkanya angka Romawi jadi yah kelihatan garis-garisnya pada copot.

Saat mengungsi, saya cuma pakai baju rumah, jadi gak keingetan sama sekali harus pakai jam tangan. Setelah 3 hari gak masuk kerja karena kebanjiran, suatu pagi pas saya mau berangkat kerja, eh baru sadar gak punya jam tangan, akhirnya pinjam jam tangan mamah. Sempat hopeless pas dapat kabar ternyata banjir sudah sedagu sedangkan posisi jam tangan terakhir gak lebih dari leher saya. Saya sih sudah ikhlas tetapi waktu jalan ke mal dan lihat toko jam tangan, entah kenapa gak niat beli sama sekali.

Dan ternyata, memang saya tidak harus beli. Jam tangan saya ketemu di kolong tempat cuci piring (sungguh bukan tempat yg elit menemukan jam tangan di sana) dan masih berdetak, ON TIME. Beneran saya tidak berharap kalau ketemu masih bisa dipakai, sudah ketemu saja sudah senang, apalagi ini masih bisa dipakai. Saya cuci pakai sabun dan besoknya saya pakai lagi ke Mangga Dua, belanja Imlek. Hemat, hemat, hemat gak perlu beli jam tangan baru.

Per detik ini, angka yang lengkap terlihat cuma angka XII dan VI. Selebihnya ada angka I 3 biji yang letaknya terpisah dan angka 8 yang jadi VI juga hehe. Gapapa yang penting bisa dipakai. Gak nyangka seminggu direndam banjir dan lumpur, ternyata kualitasnya memang nomor 1! (walaupun ga ada iklannya yg bilang dia nomor 1).

Selain buku dan komik, ternyata kami juga harus kehilangan beberapa buku teks dan transkrip Dhamma. Ini yang gak disangka karena saya taruh posisinya di rak buku paling atas dan seperti yang sudah dibilang di atas, bahkan sisa-sisa rak bukunya pun sudah tidak ada. Untung saja saya tidak melihat sisa-sisa rak buku dan semua buku-buku yang hilang itu, kalau tidak, nangis bombay deh hik hik.

Waktu saya bilang ke Bronsen, bahwa ada teman yang menawarkan bantuan bila kita membutuhkan saat banjir kemarin. Bronsen cuma bilang, “Oh, kalau gitu tolong carikan komik Shin Kotaaro nomor 1-24. Itu komik langka, tolong carikan di tukang buku loak, nanti dibayarin.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: