My Journey, My Story, and My Dream

March 11, 2013

Weaning alias “nyapih”

Filed under: Breastfeeding,Viriya — ayacerita @ 8:35 am

Kalau ditanya orang sampai kapan Viriya mendapatkan ASI, jawaban saya adalah “2 tahun 8 bulan”, dan reaksi orang selanjutnya adalah :

  • “Lama bangat, gak jadi manja tuh?” Yah, enggak lah.
  • “Gak sakit yah, emang giginya belum tumbuh?” Kadang sakit kalau pelekatan gak benar, kalau ok mah, biasa aja tuh rasanya.
  • “Bengkak gak?” Gak dong, karena Viriya sendiri yg berenti.
  • “Pake apa tuh nyapihnya? Brotowali, saus tomat, puyer, balsem, obat merah?” Buset dah, maap ibu-ibu, saya mah yg normal-normal aja.

Saya agak sedikit gak ngerti kalau ada yg pernyataan, semakin lama anak menyusu ASI ke emaknya, maka dia bisa jadi anak yg manja. Sependek pengetahuan saya, belum ada pengetahuan yang shahih dan terbukti akan pernyataan tersebut, jadi saya enjoy-enjoy saja masih menyusui Viriya. Pas Viriya mendapatkan label sarjana S3 ASI, saat itu saya dan suami mulai berpikir untuk menyapihnya, tapi dengan apa yah?

Saya sendiri gak tega kalau anak tercinta disapih dengan brotowali, saus tomat, obat merah, balsem. Jangan salah, input seperti ini selain datang dari pihak luar juga datang dari mamah dan mamah mertua. Percaya gak, waktu bayi, saya dan adik disapih dengan brotowali yg pahitnya amit-amit itu, sampai gede gini saya gak doyan makan yg pahit-pahit. Makan siomay dan gado-gado gak pernah pake pare; berani makan sayur daun pepaya cuma di restoran Manado karena percaya mereka mengolah dengan baik sehingga ga terasa pahit. Bronsen dulu disapih dengan balsem, tapi belum ada kejadian membuktikan dia gak suka makan balsem sih.

Bagi saya waktu itu, “gak tega ah”. Waktu bayi saya bela-belain dapat ASI, sampai begadang agar dapat stok ASI cukup, yg mana jadinya malah berlimpah, saya haramkan itu susu formula, masa ketika Viriya menyukainya harus saya sapih dengan cara yg agak traumatis begitu. Baca sharing teman-teman, ada loh ternyata metode “weaning with love”, yang mana sepenangkap pengetahuan saya adalah metode menyapih dengan cinta yg artinya gak maksa, gak ada yg tersakiti, si anak dgn kesadaran sendiri berhenti minta nenen, dan keputusan weaning adalah keputusan bertiga, mamah, papah, dan anak.

Sempet sih nyiapin brotowali waktu ada tukang jamu gendong datang, tapi demi mendengar perkataan nyokap, “Siap-siap gak tidur 4 malam yah, brotowali kan pahit terus si Viriya nanti kemungkinan nangis-nangis minta nenen.” Eh, udah traumatis gitu, saya harus mengorbankan 4 malam gak tidur pulas? Ogah ah.

Apakah keluarga dan tetangga mulutnya bisa diam pas saya bilang ternyata Viriya belum disapih pas udah lewat 2 tahun umurnya? Yah, namanya manusia, rasa peduli sosialnya memang tinggi dan gak bisa dicegah. Perkataan, “Ih malu dong, udah gede kok masih nenen,” atau “Waduh, sampai kapan tuh nenen terus, nanti pulang sekolah minta nenen lagi?” atau “Ih, manja bangat sih udah gede gitu masih nenen” dan beragam versi nyinyir alias peduli sosial lainnya. Respons saya? biasa saja.

Gigi-gigi Viriya yg hampir sudah tumbuh lengkap pas umur 2 tahun memang bikin menyusui jadi bikin sering sakit, tapi itu terjadi kalau misalkan dia nenen terus ketiduran, terus puting saya kegigit, mantap itu sakitnya. Selebihnya biasa aja.

Ketika mulai proses weaning, yg saya lakukan padanya ngajak ngobrol, “Viriya sekarang sudah gede lho, yg masih nenen itu dede baby.” Atau, “emang susu nenennya masih ada Vir, udah habis lho, kan Viriya udah gede.” tapi lebih sering dijawab, “masih ada”. Terus saya juga kasih peraturan, nenen boleh tapi hanya di rumah atau mobil, itu pun kalau saya lagi pakai baju yg gak mungkin untuk menyusui, saya tekankan ke Viriya, nenennya di rumah aja yah.

Aturan lainnya, nenen gak boleh lebih dari 5 menit, soalnya kalau lebih lama akhirnya cuma mentil. Lama-kelamaan periode nenen berkurang, bahkan hanya kalau mau tidur, tidak pernah pas lagi main, tiba-tiba dia minta nenen. Bahkan makin lama berkurang dari 5 menit, kadang sih saya agak drama sedikit, “Aduh sakit Vir” terus dia langsung lepas dan langsung saya peluk. Terus saya juga bilang, “jangan nenen yah, mamah usap-usap aja, mamah pok-pok deh.”

Kalau tengah malam terbangun dan cari nenen, awalnya saya kasih, lama kelamaan, nenennya sebentar aja, ibaratnya cuma nempel, terus dilepas lagi. Lama-lama bahkan cuma diusap-usap dan dipeluk Viriya bisa tidur lagi tanpa nenen.

Prosesnya begitu terus, sampai saya juga lupa pas kapan persisnya Viriya langsung tertidur tanpa minta nenen sama sekali. Dia dan saya lupa aja gitu, pokoknya pas waktunya tidur, matiin lampu, dan tidur-tiduran, kadang sambil ngobrol bentar, terus tiba-tiba diam, dan Viriya sudah pulas. Senang sekali rasanya melewati proses weaning alias nyapih tanpa ada yg merasa tersakiti. Walaupun 2 tahun 8 bulan dirasa cukup lama, tapi saya senang-senang saja menjalaninya. Untungnya bagi saya karena prosesnya pelan tapi pasti, episode menyapih ini tidak membuat payudara saya bengkak seperti yg dirasakan ibu-ibu yg lain kalau menyapih dengan paksaan (bengkaknya karena produksi masih jalan tetapi demand berhenti tiba-tiba). Payudara bengkak itu sakit, Jenderal! Untunglah saya tidak mengalaminya.

Bagi rekan ibu-ibu yg masih bingung karena udah 2 tahun anaknya gak berhenti nenen, jangan khawatir. Anak umur 2 tahun sudah bisa diajak komunikasi kok, walau bicara mereka belum jelas, tapi mereka sudah mengerti kalau kita ajak ngomong. Di ajak ngomong saja, dibuai, lain kali kalau anaknya minta nenen, Papahnya mengalihkan ajak main (itu makanya sang Papah juga mesti setuju untuk menyapih, jangan kira itu tanggung jawab sang mamah seorang). Gak usah tiba-tiba karena proses weaning itu rasanya berat baik untuk anak ataupun si emak, bayangin udah biasa menenangkan diri dengan nenen dan mendengarkan detak jantung bunda, tiba-tiba gak boleh, atau bagi mamah yg udah biasa menyusui sambil memeluk dan menciumi sang buah hati. Jalani saja dengan normal dan penuh cinta, hasilnya memberikan kepuasan lahir batin untuk kita bertiga.

PS : Di suatu episode proses nyapih, sebelum tidur, Viriya minta dadanya diusap-usap dan pahanya dipok-pok sekaligus, sungguh membuat koordinasi otak kiri dan kanan saya jumpalitan hahaha.

1 Comment »

  1. thaaanks mba utk sharing pengalamannya…paas banget momennya saya sedang mencoba utk menyapih si kecil. Setuju banget dengan metode Weaning with Love. Semoga saya bisa berhasil seperti mba. PS nya bikin ngakak :))

    Comment by Inmut — August 19, 2014 @ 1:25 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: