My Journey, My Story, and My Dream

July 10, 2013

Ending of the Book

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 3:53 pm

Ceritanya, saya dan Bronsen, baru saja menamatkan baca trilogi Lisbeth Salander. Bronsen duluan sih, baru saya belakangan habis dia baca. Komen Bronsen untuk buku pertama sih biasa aja, tapi untuk buku ke-2 dia ngomel-ngomel karena endingnya gantung abis, bikin penasaran, dan harus segera baca yang ke-3.

Giliran saya menamatkan buku ke-2, komen saya biasa aja ah endingnya. Menurut saya, malah ending yang terbuka begini lebih menarik, tidak seperti dongeng-dongeng Disney yang tak bosan dengan tagline “and life happily ever after”. Kalau saya sih gak puas dengan ending yg terlalu sempurna seperti itu kalau baca buku yah. Tapi menurut Bronsen, endingnya buku 2 itu terlalu terbuka, terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Hehe, memang beda sudut pandang bangat dengan saya.

Menurut saya, ending buku Harry Potter itu terlalu “closed”, diceritakan bagaimana akhirnya Harry dan teman-teman punya anak dan tidak lupa memberikan nasihat kepada anak-anaknya sebelum berangkat sekolah. Kalau saya inginnya berakhir sampai si Voldermort mati, selesai. Gak usah ditambahin lagi. Bagi saya itu malah menutup imajinasi tentang dunia sihir Hogwarts.

Begitu juga ending yang agak dramatis di novel 5CM. Saya sebenarnya terharu dengan adegan pengibaran bendera anak-anak tokoh utama di akhir cerita itu, tapi kok menurut saya adegan tersebut agak kurang sreg untuk menutup cerita tersebut.

Ending terbuka yang bikin saya gak puas mungkin di novel Kite Runner. Keponakan Amir yang menderita trauma hebat itu tidak mungkin dengan mudah bisa disembuhkan, makanya hanya dengan main layang-layang di akhir cerita, masih bikin saya penasaran apa yang akan terjadi pada anak tersebut.

Balik lagi ke novel Lisbeth Salander. Trilogi novel ini bagi saya adalah novel terbaik yang pernah saya bca sampai saat ini. Bukunya memang tebal-tebal, tapi sangat mengasyikan untuk dibaca bahkan tidak rela kalau ditinggal kelamaan. Yang sangat menarik adalah baru di buku ke 3 saya mengetahui bahwa Malin Eriksson itu perempuan (ini spoiler bukan yah?). Yah karena latar belakang buku ini di negara Swedia dan nama-namanya yang tidak familiar jadi agak susah membedakan mana lelaki dan perempuan kalau tidak disebutkan secara eskplisit.

Tokoh yang paling menarik tentu saja Lisbeth Salander. Waktu pertama penceritaan sih memang banyak di tokoh Kalle Blomkvist, tapi lama kelamaan semua cerita berpusat pada Lisbeth ini. Beneran dia nih sangat berbeda dari tokoh-tokoh fiksi di novel-novel yang pernah saya baca. Biasanya tokoh wanita utama itu kalau tidak tokoh wanita cantik tegar, tegas, keras kepala, pejuang, cerdas, atau sebaliknya pemalu, konservatif, penakut yang jatuh cinta pada pria tampan berandalan, cuek, tapi baik hati. Lisbeth disini benar-benar cewek antisosial yang bahkan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh pelajaran PPKN seperti tenggang rasa, hormat menghormati, suka membantu tetangga, jauh bangat deh.

Lisbeth yah Lisbeth, kalau tidak perlu berurusan dengan orang lain, yah sudah. Kalau tidak mau berurusan dengan orang lain, yah terima aja. Dia hidup dengan caranya sendiri dan dengan keras kepala tetap mempertahankan apa yang diyakininya benar, bukan yang menurut orang lain benar, atau menurut lingkungan benar. Kebayang sih bagaimana susahnya hidupnya terutama waktu masih sekolah apalagi sebagai cewek. Yah gimana, cewek itu kalau sekolah, entah peraturan dari mana, diharuskan bergaul, atau bahkan punya geng. Kalau gak punya teman dekat, atau teman kumpul-kumpul, nanti dibilang pendiam, atau bahkan aneh. Maknay si Lisbeth ini sering jadi sasaran keisengan atau kenakalan teman-temannya yang sebenarnya penasaran karena nih anak saking pendiamnya jadi jarang berekspresi. Kayanya dari lahir waktu bayi, dia sudah menolak untuk menangis seperti bayi-bayi pada umumnya.

Selain Lisbeth, buku ini juga bercerita tentang wanita-wanita tangguh lainnya. Erika Berger si pemimpin redaksi Millenium, Annika Gianini sang pengacara pembela wanita dan isu-isu gender, Inspektur Modig sang polisi yang mulai muncul di buku ke-2, dan Inspektur Figuerola polisi khusus yang baru muncul di buku ke-3. Tapi ini bukan novel cewek kok hanya di ceritanya saja menunjukan wanita-wanita hebat ini, karena disini diceritakan juga beberapa lelaki hebat seperti si Kalle Blomkvist pemeran utama, Inspektur Bublanksi (setiap kali nyebut namanya, selalu keingat Viriya lagi main buble), Cortez, Svensson, wartawan-wartawan Millenium, Edklinth pejabat Sapo, Armansky  yang memiliki Milton Security, atau mungkin sekalian aja penggambaran si gay Christer yang merupakan artis handal. Yah karena bukunya berlatar belakang Swedia, cerita mengenai gay atau lesbian tidak luput di buku ini, tapi dengan porsi yang kecil.

Intinya baca aja deh bukunya.

2 Comments »

  1. Duh hebat amat yen, masih sempet2nya baca buku, trilogi pula hahahh.. G udah ga sempet banget lho, sampe rumah pengennya langsung maen2 ama Rey trus bobo, nonton tv aja udah jaraaangg banget nih, trus tiap nonton apa gitu pasti deh g ketiduran hahahh.. *am so old yah..*

    Comment by xoxoanna — July 11, 2013 @ 4:39 pm | Reply

    • Haha, gw juga gitu kali pas Viriya masih seumuran Rey.
      Makanya gw ogah ke kantor disuruh bawa mobil sendiri, mendingan naik busway atau naik bis kota deh biar gw bisa baca buku. “Me time” gw disana soalnya haha.

      Comment by ayacerita — July 23, 2013 @ 3:33 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: