My Journey, My Story, and My Dream

October 10, 2013

Anak Sakit

Filed under: Cuma mikir,Curhat emak-emak,Viriya — ayacerita @ 6:09 pm

Jiah, ternyata 2 bulan lamanya yah saya tidak menulis apa-apa disini, huhuhu, ini baru mau coba nulis lagi nih tentang pengalaman anak sakit.

Ceritanya suami pindah kerja ke Riau, saya juga waktu bulan Juli posisinya sudah mengajukan surat resign dan akan pindah ke kantor baru habis lebaran, sehingga ceritanya mau ngabisin cuti sekalian berkunjung ke tempat suami selama 10 hari bersama Viriya.

Berangka hari sabtu malam setelah Viriya sekolah, sebenarnya dapat pesawat sore, tapi dicancel jadi jam 20.30 (sama airlines yg tidak perlu saya sebut namanya disini karena udah sering jadi berita), akhirnya sesampainya di Pekan Baru nginep dulu semalam. Pertimbangannya karena perjalanan dari PKU ke Duri bisa 4 jam jadi takut Viriya kecapean. Besok siang setelah makan siang KFC (beli bungkus makan di hotel karena ternyata di PKU selama bulan puasa, kalau siang hari resto cuma boleh melayani take away), kami dijemput travel.

Jam 4 sore sampai di mess suami, sepanjang perjalanan Viriya tidur pulas kecapean rupanya. Pas sampe, matanya langsung melek dan semangat masuk “rumah” papah. Jam 5an karena di wilayah tempat tinggal suami ada playground, kami pun kesana. Dan seperti sudah ditebak sesampainya di playground, Viriya gak mau pulang masih asyik main. Akhirnya jam 6an kami pulang ke mess, mandi, makan malam, istirahat, dan tidur.

Hari senin pagi ke pasar dan mengunjungi sekolah TK dan playgroup di camp kantor suami. Sorenya rencananya mau renang, tapi Viriya tidur siangnya kesorean. Cuma sempet main di playground lagi. Hari Selasa sore akhirnya bisa berenang. Malamnya tanpa diduga Viriya mulai panas. Episode anak sakit dimulai.

Malam itu juga Bronsen beli paracetamol syrup untuk anak-anak (naik sepeda beberapa kilometer katanya karena apoteknya di luar camp dan jauh). Panasnya panas banget kalau pake “tanganmeter”, saya lupa bangat gak bawa termometer, biasa kalau pergi menginap, saya pasti bawa termometer takut anak panas, ternyata kali ini benar-benar lupa. Selasa malam itu badannya panas sekali sampai pagi. Observasi ketat karena takut kejang demam juga.

Karena kakek neneknya di Jakarta dan Bekasi mendesak Viriya dibawa ke dokter akhirnya saya bawa saja ke dokter RS di camp tersebut pada Rabu siang, gratis sih, tapi si dokter anak ini cuma lihat dan raba-raba Viriya sebentar (suhu badannya sampai 39 derajat dan Viriya lemas) dan langsung dong kasih resep paracetamol syrup merk lain (padahal saya sudah bilang saya juga sudah kasih parcet) dan antibiotik. Saya langsung tanya, “kenapa dikasih AB Dok? memangnya ada infeksi bakteri?” Dan langsung dijawab, “Yah kemungkinan infeksi ini, AB yah buat pencegahan infeksinya lebih berat.”

Udah gitu doang ngomongnya, terus saya diminta keluar ruangan sambil bawa resep. Benar-benar kecewa deh, AB kan bukan untuk mencegah infeksi, tapi bodohnya saya juga masih mau ke dokter nurutin saran orang tua padahal demam belum 72 jam belum bisa menunjukan penyakit aslinya. Saya tebus obatnya di farmasi, sebenarnya gak mau tebus AB-nya, tapi harus tebus semua, untung gratis. Tapi pada saat saya tanya apakah ada termometer, apoteknya ternyata tidak  jual, padahal itu yg paling saya butuhkan saat itu.

Rabu, Kamis, Jum’at badan Viriya tetap panas, badannya lemas, maunya tidur saja, makan tidak mau, paling hanya minum susu dan makan puding. Air putih saya paksakan terus masuk agar tidak dehidrasi, mandi air hangat biar badannya nyaman. Parcet setiap panas badannya naik, lagi-lagi hanya berdasarkan tanganmeter. Sempet deg-degan karena tidak ada termometer sama sekali. Selama Viriya panas, saya menguatkan hati dengan membaca-baca tentang demam, DB, thypoid, roseola, HMFD, ISK, plus penyakit khas anak-anak lainnya yg gejala awalnya demam. Sempat galau karena sampai hari Jum’at pagi badannya masih panas dan mendekati waktu 72 jam dan tidak ada gejala lain yang timbul selain demamnya, batuk pilek pun sama sekali gak ada.

Akhirnya Jum’at pagi itu saya bikin janji lagi dengan dokter anak, kali ini dapat DSA berbeda. Saya khawatir saja karena sudah hampir 72 jam dan besoknya kami akan ke Pekanbaru dan Senin akan kembali ke Jakarta. Jum’at siang bertemu dengan DSA yang berbeda, kali ini DSAnya jauh berbeda dari DSA pertama. Pas saya bilang ini demamnya sudah hari Selasa dan hampir 72 jam, dia langsung meminta cek darah, tapi saya juga minta cek urin karena Viriya pernah ISK waktu bayi.

Saat saya belajar mengenai demam itu, saya tahu sebenarnya urutannya adalah cek urin dulu untuk mengetahui ISK atau tidak, bila bukan ISK baru cek darah bila diperlukan untuk menegakan diagnosa awal. Tapi karena waktu mepet besoknya mau ke PKU, saya ambil keputusan menyetujui tindakan tersebut. Jangan ditanya bagaimana mirisnya hati ini saat Viriya nangis teriak karena tangannya disuntik untuk diambil darahnya. Menangisnya tuh berhentinya lama bangat.

Untungnya nakes (tenaga kesehatan) yang mengambil darah menunjukan profesionalismenya, saat nakes pertama tidak bisa menemukan pembuluh darahnya, dia menyerahkan ke seniornya, kemudian seniornya itu juga memanggil seniornya lagi. Jadi saat disuntik prosesnya mulus kecuali untuk mencari pembuluh darah yang memang masih sangat kecil itu.

Hasil tes urin dan darah negatif, tidak ditemukan apapun, trombosit juga normal, leukosit tinggi memang karena ada infeksi, tapi menurut DSA tersebut hanya infeksi virus, bukan bakteri sehingga tidak perlu AB. Dalam hati mengamini, YES, akhirnya ketemu DSA yg bisa diajak tango. Pas saya cerita sebenarnya saya dari Jakarta, DSA pun menyatakan mungkin Viriya kecapean terus berenang terus virusnya mampir dan badannya memang pas lagi gak fit. Karena parcetnya masih ada, DSA hanya meresepkan Viriya vitamin, yang juga tidak saya berikan (setelah baca-baca tentang vitamin yah).

Nah, sepulang dari RS Viriya mulai bawel lagi, nanya ini itu di perjalanan pulang ke mess. Panasnya berangsur turun, makannya mau walaupun sedikit. Tidur siang, minta nonton Disney Junior, mandi sore, terus makan malam walaupun sedikit, dan minta keluar mau naik bis katanya. Saya dan Bronsen antusias, pas ditanya “Memangnya Viriya sudah sembuh?” dan dijawab yakin”Sudah kok, Viriya sudah sembuh”.

Akhirnya malam itu kami bertiga naik bis camp ke arena bowling dan main bowling disana, Viriya memang kelihatan masih lemas, tapi sudah bergerak kesana-kemari, bawel nanya ini itu, kuat jalan kaki yang sebelumnya minta gendong terus, dan suhu badannya normal kembali (lagi-lagi pakai tanganmeter). Lega sekali rasanya bisa melewati periode anak sakit kali ini tanpa intervensi obat-obatan yang tidak perlu, tetapi dalam hati agak menyesal juga kalau tahu hari ini Viriya sembuh, mengapa pula tadi siang buru-buru cek darah, kan sebenarnya tidak perlu disuntik-suntik yah huhuhu. Tapi yah ini jadi pembelajaran saja buat saya dan suami dalam mengambil suatu keputusan tindakan kesehatan untuk anak.

Sabtu, Minggu, sampai Senin perjalanan kembali ke Jakarta, Viriya memang masih agak lemas karena habis sakit, tapi aktivitasnya sudah mulai seperti semula.

2 minggu kemudian saya harus berurusan lagi dengan RS, kali ini mengantar papah saya yang sakit dan harus masuk UGD, untungnya tidak ada hal yang harus terlalu dikhawatirkan kecuali kebiasaaan rokoknya yang menyebabkan jantungnya mengalami pembengkakan, tapi hasil EKG normal dan tidak perlu dirawat. Saat saya di depan counter farmasi menunggu obat papah saya, di sebelah saya ada keluarga beserta 2 anaknya, 1 balita dan 1 masih bayi. Si ayah menerima obat dari nakes yg ternyata untuk anaknya, kebetulan saya bisa dengar apa yg dibilang nakes saat menyerahkan obat; anak pertama dapat obat batuk, puyer untuk pileknya, obat demam, dan vitaminnya, si adik dapat puyer untuk pilek, obat demam, obat anti virus, dan vitamin. Masing-masing anak mendapat 4 macam obat entah total harganya berapa.

Saya berpikir seandainya si ibu dan ayah mengetahui informasi yang tepat mengenai common cold dan bagaimana tindakan yang tepat untuk mengatasinya, pastinya mereka tidak akan mengeluarkan banyak uang untuk obat-obatan tersebut, dan yang lebih penting lagi anak-anak mereka tidak akan terpapar obat-obatan yang sebenarnya tidak perlu itu. Lagi-lagi kesehatan anak ada di tangan orang tuanya.

 

PS : untuk batpil dan demam bisa dibaca infonya di sini http://milissehat.web.id/?p=1498 dan http://milissehat.web.id/?p=1. Kalau masih dirasa kurang bahan bacaannya bisa mampir ke mayoclinic dan web CDC. Jangan lupa baca yang lainnya juga biar belajarnya tambah afdol dan gak panik kalau anak sakit.

1 Comment »

  1. Memang bete juga klu ketemu dokter yang selalu menghubungkan demam yang berarti infeksi = antibiotik. Padahal infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus. Sepertinya dr. itu pada lupa pelajaran mengenai penyebab infeksi. Sebagai panduan awal bisa baca http://m.detik.com/health/read/2011/11/30/110636/1778922/763/membedakan-demam-karena-infeksi-virus-atau-bakteri

    Comment by yeherdian — December 21, 2013 @ 2:41 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: