My Journey, My Story, and My Dream

April 2, 2014

Nasi Putih

Filed under: Simple n ringan aja — ayacerita @ 7:57 am

“Nanti lupa lho rasanya nasi bagaimana?”

Itu adalah ungkapan bingung salah satu teman saya yang heran melihat saat saya sedang makan bersamanya di kantin kantor dan saya sama sekali tidak ambil nasi putih. Iyah, sudah beberapa waktu ini saya tidak makan nasi putih, alasannya bukan karena diet kok, tapi karena saya merasa tanpa makan nasi putih, perut saya bisa kenyang.

Awalnya, waktu hamil saya sempat diminta diet karbohidrat oleh DSOG. Jadi setiap malam saya tidak pernah makan nasi, waktu melahirkan dan punya bayi, karena ASI ekslusif, bawaan saya lapar terus, jadi makan nasi juga jalan terus cuma dengan porsi sedikit karena saya lebih memilih makan banyak sayur dan lauk. Selepas ASI, badan saya mulai membesar. Saya ingin mencoba apakah dengan sedikit makan nasi dalam sehari 3 kali makan saya akan kelaparan atau tidak. Jadi makan nasi paling cuma 3 sendok makan setiap kali makan, eh ternyata kenyang tuh, gak merasa lapar.

Beberapa bulan kemudian saya mencoba untuk tidak makan nasi saat makan malam, ternyata saya tidak merasa lapar saat tidur, dan hal ini mudah dilakukan karena kalau makan malam kebanyakan di rumah. OK, hal ini saya lanjutkan dengan membuat peningkatan baru, makan nasi hanya pada saat sarapan atau makan siang, dengan kata lain, sehari hanya sekali makan nasi. Awalnya sulit sih, karena biasa sarapan dan makan siang di luar, jadi kalau pesan makan susah kalau tidak pakai nasi. Misalnya mau makan paket ayam penyet atau bebek bakar, pasti ada nasinya, dan saya meragukan dengan makan sepotong kecil ayam goreng gitu, bisa kenyang ga yah nanti? Terus kalau makan yang judulnya udah ada nasinya misal “nasi padang” atau “nasi goreng”, bingung kan makannya kalau gak pakai nasi. Tapi pernah makan seafood dengan teman-teman, karena pesannya banyak macam lauk jadi saya bisa makan tanpa nasi.

Pas saya di kantor baru yang berupa pabrik ini, makan siang di kantin dengan lauk ala kantin pabrik lah yah. Saya kembali makan nasi lagi karena takut lapar. Bukan apa-apa, di pabrik ini menerapkan standar 5R dimana harusnya gak bisa tuh simpen cemilan di laci haha. Jadi karena khawatir lapar saya kembali makan nasi saat sarapan dan makan siang, walupun dengan porsi 3 sendok makan.

Tidak laparnya saya ternyata dibayar dengan badan yang makin gemuk, yah bayangin aja, di kantor lama, badan masih bergerak karena naik turun halte busway dan jalan kaki cari angkot. Sekarang, kaki saya melangkah hanya ke garasi, naik mobil, duduk manis, sampai kantor turun di lobi, jalan gak lebih dari 30 meter, langsung duduk manis lagi. Jalan kaki di kantor hanya saat ke toilet atau ke kantin saat makan siang. Waduh, gimana badan gak cepat gemuk yah kurang gerak gini.

Akhirnya karena sadar pengeluaran kalori sangat kurang sekali, sedangkan masih gak sempat olahraga (baca : malas sebenarnya), jadi saya berusaha mengurangi asupan yang masuk, jalan paling gampang adalah tidak makan nasi. Dan kali ini tidak makan nasinya langsung dari pagi-malam termasuk saat makan siang di kantin.

Tantangan yang paling besar adalah saat makan siang di kantin, dengan lauk seadanya, kira-kira bisa kenyang gak yah kalau gak pakai nasi. Ternyata saya bisa kenyang, hore.

Tapi saya tidak menolak nasi kok, kalau saya mengukur hari itu fisik saya lumayan bekerja, saya makan nasi walau sedikit. Terus bukan berarti tidak makan nasi saya tidak makan karbohidrat. Karbo tetap makan, tapi kalau misalkan ada makanan lain yang bukan karbo, saya pasti memilih yg bukan karbo. Satu-satunya karbo yang sulit ditolak walaupun ada makanan lain adalah bakmie. Sebagai orang Cina, memang susah yah lepas dari bakmie, apalagi kalau lagi di Teluk Gong dimana tersedia banyak macam bakmie dan rasanya enak-enak, slurrrpp.

Kalau harus makan di luar, saya mencoba konsisten tidak makan nasi. Jadi kalau lagi makan bebek goreng, saya tidak ambil menu paket yang pasti ada nasinya, tapi saya pilih yang “ala carte”, plus tempe tahu goreng. Kalau lagi makan sop iga, soto betawi, yah gak pakai nasi. Kalau lagi makan KFC, pesan 2 potong ayam aja, kenyang kok di perut. Kalau harus pakai nasi, yah hibahkan untuk orang lain aja.

Terus apakah dengan makan nasi jadi lebih kurus? Saya gak gitu ngerti sih, kata suami dan teman-teman saya terlihat lebih kurus, saya juga merasa badan lebih enteng, dan baju celana yang sempat tidak muat akhirnya bisa dipakai kembali. Tapi saya bingung karena timbangan saya cuma turun 1kg kayanya, atau bahkan gak turun, entah larinya kemana itu berat. Memang dari dulu massa tulang saya berat, tapi sebel aja rasanya badan udah berasa kurusan dan baju-baju lama muat lagi, kok timbangannya gak gerak ke kiri yah, hik.

Kadang saya bercanda kalau ada teman yang masih penasaran kenapa saya tidak makan nasi, saya jawab aja “mengurangi ketergantungan terhadap beras karena ada perkiraan dengan konsumsi beras rakyat Indonesia yang luar biasa (bayangkan, sarapan bubur ayam dan roti, belum bisa dibilang makan karena belum makan nasi), beberapa tahun ke depan, beras jadi komoditas langka, jadi kalau nanti tiba waktunya gak ada beras, yah saya sudah biasa makan tanpa nasi.”

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: